#FiksiHorror: “Karma” Part 1.

Malam itu suasana desa Sukasari begitu sepi, semua jendela dan pintu sudah tertutup. Sepertinya warga desa Sukasari sudah lelap dengan mimpi mereka masing-masing, tidak heran mengingat warga desa Sukasari kebanyakan pekerja kasar, petani, dan bekerja di kebun. Malam pun sepertinya tidak bersahabat, udaranya dingin menusuk. Bau dedaunan basah sangat pekat menyergap hidung, membuai siapapun yang hidup diantaranya. Perlahan-perlahan membelai setiap mata yang masih terjaga, memejamkannya dengan riuhnya hewan malam. Hingga akhirnya semua mata terpejam dalam lelapnya mimpi-mimpi, dan jiwa-jiwa mereka mulai berkeliaran meninggalkan tubuh mereka. tetapi semua itu seakan tidak berpengaruh untuk Imah. Seorang gadis desa yang tinggal beberapa meter dari perbatasan desa, ayah dan ibunya tidak begitu dipandang karena kemiskinan mereka. keluarga Imah hanya mendapatkan jatah sebuah rumah bilik kecil dibatas desa, itu pun berkat kemurahan hati bapak kepala desa. Sehari-hari Imah bekerja sebagai buruh tanam disawah majikan ayahnya, ia bekerja bersama ibunya. Sedangkan ayahnya bertugas membajak sawah agar siap ditanami, Imah sudah terbiasa bekerja kasar. Biarlah anggapnya, yang terpenting adalah ia dapat membantu ayah dan ibunya mencari uang. Biarpun begitu, Tuhan tetap adil. Ia memberikan Imah paras yang cantik, rambut hitam tergerai, dan kulit yang putih. Seberapa lama pun Imah bekerja di bawah terik matahari, kulitnya tidak pernah terbakar atau pun menjadi gelap. Seperti ribuan berlian tertanam dibawah kulitnya, tidak perduli seberapa panas matahari menerpanya. Ia akan tetap bersinar. Imah begitu ramah, semua terpancar di wajahnya. Amat berseri, dengan pipinya yang merona setiap kali ia tersenyum. Setiap orang yang melihatnya tidak akan percaya bahwa ia berasal dari keluarga miskin, dan bekerja sebagai buruh tanam sawah. Tuhan benar-benar melukiskan keindahan di wajah Imah, sebuah karunia yang tidak terhingga. Sayangnya karunia itu berubah jadi petaka untuk Imah dan keluarganya. Karena parasnya yang cantik, banyak cukong dan tuan tanah di desanya mengincarnya untuk dijadikan madu. Mereka datang terang-terangan ke rumah Imah, menawarkan sejumlah uang dan tanah asalkan Imah mau dipersunting. Keluarga Imah menolak mentah-mentah, karena mereka tahu benar Imah akan segera dicampakan begitu mereka mendapat gadis baru. Penolakan itu membuat para cukong dan tuan tanah marah, mereka merasa dipermalukan dan semakin merasa tertantang. Terror dan ancaman perbuatan jahat sering Imah dapatkan, tetapi sekali lagi Tuhan selalu menjaga Imah hingga Imah dapat lolos dari setiap perbuatan jahat para cukong dan tuan tanah. Hingga pada suatu hari, Imah bertemu dengan seorang pemuda saat ia sedang dalam perjalanan pulang setelah mencuci. Namanya Fendi, seorang anak dari buruh di sebuah perkebunan milik seorang tuan tanah. Fendi adalah seorang pemuda yang sederhana, ia selalu membantu warga yang kebetulan butuh bantuannya. Fendi juga seorang pekerja keras, setiap hari ia habiskan untuk bekerja di perkebunan yang luasnya berhektar-hektar. Setelah pertemuan pertama, Imah dan Fendi semakin sering berpapasan hingga rasa suka mulai hadir. Imah tahu Fendi adalah pemuda yang baik, ia sangat menghormati Imah dan menjaganya. mereka pun sering menghabiskan waktu bersama, Imah selalu mengantarkan rantang berisi makanan yang ia buat ke perkebunan tempat Fendi bekerja. Fendi pun selalu mengantar Imah saat ia pergi ke sungai untuk mencuci. Keadaan ini membuat para cukong dan tuan tanah yang mengincar imah berang, mereka lebih gencar melancarkan serangan. Bahkan mereka memecat Fendi dari perkebunan, dan mengusir orang tua Fendi dari rumah yang mereka tempati di perkebunan. Akhirnya Fendi dan keluarganya harus tinggal di gubuk lama mereka, keadaan ekonomi mereka merosot tajam. Dengan di pecatnya Fendi yang merupakan tulang punggung keluarga, membuat keluarga Fendi kehilangan mata pencaharian. Melihat keadaan keluarga Fendi yang semakin sulit karena dirinya, Imah pernah menyatakan keinginannya untuk berpisah dan menerima pinangan tuan tanah agar Fendi mendapatkan pekerjaannya kembali. Tetapi niat itu ditolak mentah-mentah oleh Fendi, ia tetap berkeras akan mencari pekerjaan lain. Ia lebih baik mati dari pada menyerahkan Imah kepada tuan tanah sebagai madu mereka. Fendi terus saja mencari pekerjaan di desanya, bahkan ke desa sebelah. Berbulan-bulan tetapi belum juga mendapat pekerjaan, hingga akhirnya Fendi memtuskan untuk pergi ke kota. Teman-temannya mengatakan bahwa orang kota membutuhkan banyak tenaga kerja, dan ini merupakan kesempatan untuk Fendi. Giliran Imah yang menolak mentah-mentah niat Fendi, ia sangat takut apabila Fendi meninggalkannya sendiri. Dengan air mata yang bercucuran Imah memegang tangan Fendi, memohon agar ia tidak pergi. Niat Fendi sudah bulat, demi memdapatkan uang agar ia dapat mempersunting Imah, gadis yang ia cintai. Fendi menyakinkan Imah bahwa ia hanya pergi selama 3 bulan, setelah uang yang ia dapat cukup untuk membeli tanah di desanya. Ia akan pulang dan mempersunting Imah, dan menggarap sawah mereka sendiri. Melihat keinginan Fendi yang menggebu, Imah akhirnya rela melepaskan Fendi pergi. Dengan perasaan sedih Imah mengantar Fendi, Fendi juga menitipkan Imah kepada dua sahabatnya Ujang dan Bari. Tidak terasa sudah 4 bulan ini Fendi pergi, tidak ada surat atau kabar apapun. Malam itu pikiran Imah melayang menuju sosok kekasihnya yang entah ada dimana, tapi Imah yakin Fendi akan kembali. Disaat semua orang di desanya sudah terlelap, Imah justru sama sekali tidak mengantuk. Ia membuka jendela kamar biliknya, dan memandangi hutan gelap di hadapannya. Hutan itu sangat gelap dan berlapis-lapis. Didalam dirinya, Imah merindukan Fendi. “Mah, Imah.” Tiba-tiba pintu kamar Imah diketuk, Imah mengenali suara yang memanggil namanya. Itu adalah suara Ujang. “Mah, buka pintu mah. Fendi sudah pulang.” Suara lain kembali memanggilnya, kali ini suara Bari. Mendengar kabar itu Imah sangat senang, rasa rindunya sudah tidak bisa lagi dibendung. Imah melompat dari kursi, dan bergegas membuka pintu. Saat Imah membuka pintu, Ujang dan Bari sudah berada di depan pintu. “Fendi sudah pulang?”. Tanya Imah kepada Ujang dan Bari. Tapi keduannya tidak menjawab, mereka hanya menyeringai lalu menarik Imah keluar dari kamarnya. Ujang dan Bari melempar tubuh Imah ke lantai ruang tamu. Ternyata di ruang tamu itu sudah menunggu 3 orang tuan tanah, dan beberapa centeng yang memegangi orang tua imah. Orang tua Imah yang sudah tua hanya bisa menangis, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. “Bagus jang, langsung aja di bawa.” Ujar salah satu tuan tanah, tuan Madi. “Ampun tuan, anak saya jangan di apa-apakan.” Ayah Imah mencoba melawan. Tetapi kemudian bogem mentah centeng meremukan wajah tuanya, hingga ia jatuh ke lantai. “Paakk!”. Ibu Imah mencoba mengangkat ayah Imah, tetapi ayah Imah sudah tidak sadarkan diri. Darah segar keluar dari kepala ayah imah. “Dasar nenek tua cerewet!”. Salah seorang centeng memukul kepala ibu Imah dengan gagang golok yang ia pegang, seketika itu tubuh ibu Imah jatuh ke lantai. Darah juga keluar dari kepala ibu Imah. Mereka berdua tidak bergerak lagi. “Ayah! Ibu!” Imah berontak melihat orang tuanya tergeletak dilantai, tetapi Ujang dan Bari dengan sigap memegang Imah dan mulai mengangkatnya keluar dari rumah. Imah mencoba berontak, tetapi semua menjadi pecuma karena Ujang dan Bari memegangnya sangat kuat. “Ujang, Bari. Mengapa kalian tega melakukan ini, mengapa kalian tega mengkhianati Fendi. Kalian sudah berjanji.” Imah belum sempat meneruskan ucapannya, tamparan yang sangat keras mendarat di wajahnya. Imah merasakan perih di sekitar pipinya. “Diam kau!” bentak Bari. Malam itu Imah tidak tahu akan dibawa kemana, tetapi hutan dan jalan setapak ini sangat ia kenali. Ternyata Imah dibawa ke sebuah rumah ditengah perkebunan tempat Fendi bekerja, sesampainya di dalam rumah. Tubuh Imah dilempar ke sebuah kamar. “Kerja bagus, kalian akan mendapat bayaran yang cukup.” Ujan tuan tanah, bernama tuan Kosim. Bari dan Ujang pun keluar dari rumah itu, mereka menunggu di luar. “Siapa yang lebih dulu?”. Ujan tuan Madi. “Tentu yang membayar lebih besar.” Ujar Tuan Rojak, mantan majikan Fendi. “Baiklah, kita tentukan sekarang.” Ujar Tuan Kosim. Imah terkulai lemas di dalam kamar, ia tidak tahu apa yang sedang tuan tanah itu bicarakan. Tetapi akhirnya ia menyadari bahwa para tuan tanah sedang mengundi siapa yang duluan memperkosa dirinya. Imah ketakutan luar biasa, nafasnya mulai sesak. Ia berusaha keras memberontak dan lari dari rumah itu, tetapi tangan tuan Rojak menggenggam tubuhnya dengan keras. “Mau kemana cantik.” Ujari Tuan Rojak. Pikiran Imah tertuju pada Fendi, disela-sela air mata dan nafasnya yang sesak. Imah selalu menyebut nama Fendi. Hati Imah remuk malam itu. Malam itu Imah diperkosa secara bergantian oleh para tuan tanah. Tiba-tiba Fendi tersentak bangun, nafasnya tersengal. Ia memandang ke sekitarnya, ia masih berada di rumah kecil tempat tinggalnya selama bekerja dikota. Perasaan Fendi mengatakan sesuatu buruk telah terjadi, tapi Fendi tidak tahu apa itu. Ditambah sudah 4 bulan ia tidak pulang, bukan karena ia tidak mau pulang. Tetapi uang yang ia dapatkan belum mencukupi untuk pulang. Perasaannya mengatakan ia harus segera pulang. Harus Pintu rumah terbuka, ketiga tuan tanah keluar dengan wajah penuh kebahagiaan. Mereka menghampiri Ujang dan Bari. “Kerja bagus, kalian akan mendapat upah besok. Tugas terakhir kalian adalah bersihkan rumah ini, hilangkan jejak. Beritahu warga bahwa Imah dan keluarganya hilang di hutan.” Tuan madi menepuk punggung Bari. “Lalu bagaimana dengan Imah tuan.” “Terserah kalian mau apakan.” Ujar tuan Kosim. Ujang dan Bari saling memandang. “Lumayan jang, biar bekas tapi masih kebagian.” Bari menepuk pundak Ujang, mereka berdua tertawa bersama. Mereka masuk ke dalam rumah, menuju kamar tempat Imah berada. Keadaan Imah sudah mengenaskan, kehormatannya sudah di perjual belikan, dan saat ini dua teman Fendi masih berniat jahat terhadapnya. “Mau apa kalian! tidak akan ku biarkan kalian menodaiku lagi. Teriak Imah. “Dengar kalian para manusia laknat. Kalian akan mendapatkan ganjaran atas semua ini, kalian tidak akan bisa lari.” Ancam Imah Kemudian Imah mengangkat tangannya yang sudah menggenggam sebuah parang yang biasa dipakai untuk berkebun, Imah berteriak sekeras mungkin dan manancapkan parang yang ia pegang ke perutnya. Rasa perih menyebar ke seluruh tubuh Imah, darah mulai membuat kain kebaya yang ia kenakan menjadi lepek. Beberapa detik kemudian Imah meninggal, dengan mata yang menatap tajam ke arah Bari dan Ujang. Mereka memutuskan untuk membuang mayat Imah ke hutan. Ada sedikit perasaan takut di dalam diri Ujang dan Bari. Berita hilangnya Imah dan keluarganya mulai beredar di seluruh desa Sukasari, sesuai dengan rencana para tuan tanah dan centengnya. Bari dan Ujang bertugas sebagai penyebar berita. Warga desa sebagian percaya saja, tetapi banyak juga yang curiga akan hilangnya Imah dan keluarganya. Beberapa hari setelah kejadian itu suasana desa Sukasari lebih sepi dan mencekam dari sebelumnya, ditambah dengan cerita beberapa warga yang melihat sosok Imah di jalan masuk desa yang merupakan hutan bambu. Setiap malam warga juga mulai sering mendengar suara wanita yang bersenandung, dan memanggil nama warga yang melintas. Semakin lama warga yang keluar rumah pada malam hari semakin sedikit, mereka mulai ketakutan. Kabar ini akhirnya sampai ke telinga tuan Madi, Rojak, dan Kosin. Mereka kemudian memanggil Ujang dan Bari demi menanyakan cerita yang beredar. Ujang dan Bari tidak percaya, mereka mengatakan itu hanyalah cerita-cerita yang dikarang oleh warga. Para tuan tanah percaya, tetapi mereka tidak dapat menutupi rasa takut mereka.

#FiksiHorror: Fotografi (karya: Haifa Rahma)

Tak ada orang yang sebahagia Mike saat ini.

Bisa join dengan club Fotografi terelit di seluruh sekolah dengan kualifikasi yang tinggi merupakan impian hampir seluruh siswa.

Mike menjadi salah satu siswa yang memiliki kesempatan untuk bergabung karena hasil fotonya yang dinilai sangat menarik oleh juri yang juga merupakan alumni dari club tersebut.

Foto yang Mike sumbangkan bertemakan peristiwa, dimana, Tekhnik Mike dalam memainkan kameranya sangat tepat sehingga tercipta gambar dramatis.

Difotonya, terlihat gambar detik-detik terakhir kelinci kecil yang meringkuk lemah dalam lilitan Ular Sanca Albino Raksasa yang membuka mulutnya lebar-lebar untuk melahap sang kelinci bulat-bulat.

Di fotonya yang lain lebih controversial lagi, walau agak sedikit blur, tapi cukup terlihat detik-detik terakhir seorang pria yang tidak sengaja terjatuh dari tebing tinggi bersama sepedanya.

Mike memang menyukai Fotografi dan Alam.

Malam ini Mike dan teman-temannya yang lain yang berhasil memenangkan kontes, diundang diacara pesta Club sekaligus mengenalkan mereka pada senior Club.

Mike adalah pria yang menyenangkan, dia bias dengan mudah mendapatkan kawan dari pihak senior maupun yang sebaya dengannya.

Saat sedang mengobrol dengan kawan-kawan barunya soal tekhnik Fotografi, tiba-tiba salah satu senior mendatangi mereka, memberi peringatan yang terdengar aneh.

“Ada 2 peraturan tak tertulis yang harus kalian ketahui dalam Club, Pertama, jangan pernah menganggu Alex, senior kelas 12, kedua, jangan pernah menggunakan kamar gelap milik Alex,” ujar sang senior sedikit berbisik.

Hampir semua anak-anak baru termasuk Mike, terkejut mendengar ucapan sang senior. Bukankah Alex itu icon Club, yang selalu memenangkan perlombaan?
“Memang kenapa?” Tanya Mike heran.

Sang senior hanya menatap Mike tajam sebagai jawabannya. “kau tak perlu tahu, dan kalaupun kau tahu kau akan berharap untuk tidak tahu,” jawab sang senior lalu pergi meninggalkan Mike dan kawan-kawannya yang semakin heran.

Ditengah pesta, Mike pergi ke kamar kecil untuk buang air kecil. Setelah selesai, Mike mencuci tangannya di wastafel, dan saat itu ia mendengar suara aneh di salah satu bilik Toilet.

Suara antara isak tangis dan gesekan benda seperti logam sekaligus bunyi ketukan kaki. Mike yang penasaran berjalan menghampiri bilik tersebut.

Diketuknya pintu bilik,”Maaf, apa anda baik-baik saja? Siapa di dalam?” tanyanya. Suara-suara itu berhenti, di sambung dengan geraman mengerikan ,”Alex,” jawab suara dari dalam bilik, dingin dan berat.

Mike yang terkejut, segera buru-buru meninggalkan Toilet. Rasa antara penasaran dan takutnya membuatnya bertanya pada senior yang tadi memberikan peringatan.

“Bukankah sudah kuberi tahu, kau tak perlu tahu? Tapi baiklah, akan kukatakan kenapa, Alex itu aneh, dia agak stress setelah kematian adiknya 2 tahun yang lalu, dan yang mengerikan, dia bukannya menolong adiknya, malah mengambil foto kematiannya terlebih dulu.  alhasil, adiknya tak terselamatkan dari peristiwa kebakaran itu,” ujar senior menjelaskan.

Mike bergidik mendengar cerita dari sang senior. Dia memang pernah mendengar kode etik dalam Fotografi, dimana setiap Fotografer pasti akan mengalami masa-masa Dilema antara sisi humanism untuk menolong, atau mengabadikan gambar agar dunia tahu, dan Fotografer harus mengorbankan opsi pertama agar mendapatkan moment yang pas agar terkesan dramatis.

Pesta berlanjut sampai malam. Sedangkan Mike harus menempuh jarak yang jauh untuk sampai rumahnya, satu-satunya jalur tercepat adalah kereta. Saat pesta usai, Mike segera pergi untuk mengejar Jadwal kereta malam. Stasiun sudah sepi. Hanya dia sendiri, dan seorang pria bertopi di ujung tempat kereta datang.

Tanpa Mike sadari, pria bertopi itu berjalan mendekati Mike. Tangannya terlihat menggenggam sesuatu, tapi tidak jelas apa, karena tertutup jaketnya.

“Menunggu kereta terakhir?” tegur pria bertopi dingin, Mike terkejut mendapatkan sang pria bertopi sudah duduk disampingnya. Dia hanya mengangguk tanpa berusaha melihat orang dibalik topi tersebut.

“Banyak orang jahat berkeliaran jam segini,” ujar pria bertopi itu lagi. Mike hanya diam. “Apa kau tak takut?” Tanya pria bertopi. Mike menggeleng. Pria itu menggeram. “Apa kau seorang Fotografer?”

Mike mengangguk, dalam hatinya heran, bagaimana pria aneh ini bisa tahu?. “Kau suka objek seperti apa?” Tanya sang pria bertopi sekali lagi. “Peristiwa-peristiwa dramatis, dan alam..apa kau juga seorang fotografer?” Tanya Mike.

Pria bertopi hanya berdehem keras. “Saya suka foto Api,” jawabnya dingin dan berat. “Tapi saya tidak pernah bisa mendapatkan foto Fireworks yang indah dan spektakuler,” lanjutnya lebih berat. Mike melirik jamnya gelisah. Perasaannya sangat tidak enak.

“Apa kau mau membantuku? Kau tentu mengerti perasaan fotografer, aku hanya ingin Kembang Api berwarna merah,” ujar pria bertopi sambil menggenggam lengan Mike. “Tolong lepaskan saya” ujarnya dengan suara bergetar.

“Kau hanya perlu menabrakkan diri pada saat kereta dating, sehingga saat itu tubuhmu hancur, dan meledak seperti kembang api, “ ujar pria bertopi lebih dingin. Keringat dingin mengucur dari dahi Mike. Dia berusaha meronta, dan menjerit, tapi percuma. Sudah tidak ada penjaga jika selarut itu.

“Tolong jangan paksa aku..” ujar Mike memohon. “Apa kau akan menabrakkan dirimu sendiri?” Tanya pria bertopi.

“Tentu saja tidak! Lepaskan aku kumohon,” ujar Mike masih memohon. “Kalau begitu akan kubantu kau…hahaha..”

Pria bertopi menjambak rambut mike kasar, diseretnya Mike yang menjerit kesakitan. Mereka menaiki tangga stasiun. Mike semakin ketakutan. “Siapa kau?!” jerit Mike takut.

“Alex,” jawab pria bertopi dingin dan berat. Mike semakin terkejut. Dia terus meronta, tapi setiap dia meronta maka Alex akan menendang tulang keringnya atau menamparnya.

“Kau adalah masterpieceku…kau adalah kembang api merahku..” ujar Alex sambil menatap Mike dingin. Di atas, ternyata sudah tersedia peralatan kamera lengkap. Alex sudah mempersiapkan semuanya! Mike semakin ketakutan, kakinya mencoba menendang-nendang Alex, namun sia-sia, Alex malah melayangkan tinjunya tepat di pipi kananya. Krak! Mike bias merasakan tulang rahangnya yang patah akibat tinju Alex. Pandangannya mulai kabur.

Alex meninggalkannya untuk menyiapkan kameranya. Dari bahasa tubuhnya, sepertinya pria itu sangat bahagia.  Dipasangnya satu persatu peralatan Fotonya, mulutnya bersenandung ceria seperti anak kecil mendapatkan hadiah. Hingga tiba-tiba…Krak! Hantaman keras dari tripod yang tadi digeletakkannya dibelakang mengenai kepalanya. Rupanya Mike sudah kembali tersadar. Matanya agak memerah.

“Bukankah sudah kubilang jangan memaksaku sobat?” ujar Mike sedikit tertahan. Alex meraung kesakitan, dia merasakan pusing luar biasa dikepalanya.

“Sepertinya kita memiliki selera Foto yang sama sobat,” sambung Mike sambil menghantamkan tripodnya kewajah Alex hingga mematahkan hidungnya. Alex semakin berguling-guling kesakitan.

“Aku rasa idemu dengan kembang api Merah tidak terlalu buruk sobat, tentu aku akan membantumu,”

Kali ini Mike mengarahkan tripod ke kaki Alex tepat di tulang kering. Alex menjerit nyaring. Mike semakin menjadi, diinjaknya dada Alex sampai terdengar bunyi krak-krak yang menandakan tulang rusuknya yang patah.

“Tapi tentu saja bukan aku kembang apinya,”

Tepat saat itu ia mendengar bunyi kereta datang. Dia tersenyum ke arah Alex yang masih meraung kesakitan dengan darah berceceran disekitarnya. Mike meraih kamera Alex yang tak jauh darinya.

“Aku paham perasaanmu, Akan kubantu mewujudkan permintaan terakhirmu,” ujarnya dengan senyum dingin. Mike menyeret Alex menuju tepi gedung yang langsung mengarah kea rah rel. Alex sudah tidak sanggup meronta, dia hanya menatap Mike ngeri. Namun tidak berkata apapun,

Kereta datang, dan Mike menendang tubuh Alex tepat saat kereta datang sambil memegang kamera yang sudah menyala, “Say Cheese Alex…” ujarnya sambil menekan tombol shutter, tepat saat tubuh alex tertabrak kereta yang melaju dengan kecepatan tinggi dengan kepala terlebih dulu. Tubuhnya langsung hancur tanpa ampun, menimbulkan efek kembang api dengan warna merah darah.