selamat malam….

selamat malam….

#FiksiHorror: Rahasia Pulau Mati

"Wow! Ini pasti sangat mengasyikkan" sorak Finn kegirangan. "Ya, aku tau ini pasti mengasyikkan. Sangat-sangat mengasyikkan" tambahnya sambil berlari-lari kecil seperti anak berusia dibawah 5 tahun yang mendapatkan permen.

"Ini liburan musim panas yang akan sangat mengerikan! Dan juga menyenangkan" timpal Edd dan Rob secara bersamaan. Hampir bersamaan.

"Ya, mungkin. Mungkin saja" aku yang sebenarnya merasa biasa-biasa saja mencoba ikut senang dengan Finn, Edd, Rob, dan Casey. Ini liburan musim panas kami, kami. Aku, Finn, Edd, Rob, dan Casey adalah teman baik. Rumahku dan mereka juga cukup dekat. Hanya berjarak beberapa blok saja.

 

Liburan musim panas kali ini, kami diajak oleh keluarga Casey berlibur ke sebuah pulau. Pulau Mati. Demikian orang menyebutnya. Menurut cerita, dulunya pulau ini adalah tempat pembantaian tahanan perang. Pulau ini cukup luas, jaraknya cukup jauh dari tempat kami tinggal. Konon katanya, arwah korban pembantaian disana sering muncul pada saat-saat tertentu, untuk membalas dendam kepada manusia yang menghabisi nyawa mereka. Ada juga cerita mengenai arwah-arwah tentara yang suka membunuh manusia-manusia yang masih hidup di pulau tersebut. Aku juga tidak habis pikir, kenapa kami diajak berlibur kesana oleh keluarga Casey.

 

Oh iya, aku Billy, sebenarnya aku lebih suka menghabiskan waktu liburanku dengan membaca buku. Membaca buku apapun itu, usiaku 16 tahun. Sementara Finn adalah anak yang memiliki daya khayal dan rasa ingin tau yang sangat tinggi, ia punya khayalan bahwa suatu saat ia akan memecahkan kasus-kasus seperti Jack The Ripper. Dia selalu ingin jadi detektif. Sementara Edd dan Rob adalah saudara kembar. Tinggi mereka sama, kutaksir sekitar 170 cm. Rambut mereka pirang, Rob berkacamata sedangkan Edd tidak berkacamata, tiap orang yang melihat mereka, sudah pasti mengatakan “kalian pasti saudara kembar”.

 

Casey? Casey adalah anak dari keluarga yang sangat kaya, ia dan keluarganya sangatlah baik, mereka suka mengajak kami berlibur, berkemah, dan juga pergi ke pantai. Tapi untuk saat ini aku masih tidak habis pikir mengapa harus ke pulau mati untuk liburan kali ini? Pulau mati, pulau mati. Aku tidaklah menyukai dan mempercayai hal-hal yang berbau horror, setan, hantu, atau apapun sejenisnya. Aku sering membaca buku-buku horror, dan itu tidak bisa membuatku ngeri. Maksudku, aku sering menakuti diriku sendiri dengan imajinasi-imajinasi yang kubuat sendiri.

 

Tapi itu tidak berhasil.

Dan tidak akan pernah berhasil.

 

“Bagaimana Billy? Kau juga mau ikut kan?” pertanyaan Casey tiba-tiba mengagetkanku.

“Kecuali kalau kau memang ayam hahaha,” Edd dan Rob mengejekku. Lagi-lagi bersamaan. Mereka memang sering bersamaan ketika bicara, aku juga tidak tau kenapa keseringannya seperti itu. Apa mungkin mereka melakukan sebuah perjanjian dahulu di rumah mengenai apa yang akan mereka bicarakan?

Entah.

“Ya, pastilah aku ikut. Lagipula kali ini aku tidak punya cukup persediaan buku untuk aku baca selama liburan, maksudku buku baru” sahutku sekenanya.

“Yeay! Kita full team kali ini. Pulau mati, kami datang!!!” lagi-lagi Finn bersorak.

 

Menjelang sore, kami bergegas kembali ke rumah kami masing-masing, kami juga berkemas malam harinya, esok jam 9 pagi kami akan berangkat liburan ke pulau mati selama seminggu. Seperti biasa, Ibuku mengkhawatirkanku, Ibu memang selalu begitu, selalu menganggap aku seperti anak kecil yang belum bisa apa-apa. Berbeda dengan Ayah, Ayah ingin aku menjadi laki-laki yang mandiri sejak dini. Ibu membekaliku dengan berbagai makanan ringan, beberapa kaleng minuman bersoda, dan juga beberapa coklat.

Keesokan paginya, aku berpamitan kepada Ayah dan Ibu, lalu bergegas menuju rumah Casey. Sampai disana ternyata sudah ada si kembar. Lalu tidak lama kemudian Finn datang. Ibu Casey, Miss Nolan membuatkan kami sandwich untuk sarapan, sandwich dengan ukuran besar. Seperti biasanya, kami memang selalu mendapat hidangan seperti itu ketika ke rumah Casey pada pagi hari. Sementara itu Ayah Casey, Mr. Wood sedang menyiapkan mobil dan juga memasukkan barang-barang bawaan kami. Sebenarnya aku merasa tidak enak, tapi sewaktu aku mau membantu Mr. Wood untuk memasukkan barang-barang kami ke mobilnya, ia malah menyuruhku bergabung untuk sarapan.

 

Tepat jam 9 pagi, kami selesai sarapan. Aku merasa sandwich tadi sangatlah besar, mungkin siang nanti aku tidak akan merasa lapar. Mobil milik keluarga Casey adalah sebuah van, cukup untuk menampung kami. Bahkan masih ada bangku kosong. Mr. Wood mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, di dalam mobil, kami bercerita satu sama-lain. Miss Nolan menanyakan kepada kami, apakah disekolah Casey sering membuat keributan atau tidak. Kami membicarakan apapun. Kulirik jam tanganku menunjukkan jam 10.30, sudah hampir satu setengah jam kami di dalam mobil tersebut. Pagi itu suasana jalanan tidaklah terlalu macet.

 

Jam 11.00 kami sampai di pelabuhan, untuk sampai ke pulau mati, kami harus menyebrang menggunakan kapal cepat dan itu masih membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Begitu kira-kira yang dikatakan Mr. Wood. Di kapal cepat aku merasakan mual yang teramat, aku memang tidak suka bepergian menggunakan kapal.

“Hey Billy, kenapa kau?” tanya Casey.

“Mukamu merah, kamu ketakutan naik kapal?” timpal Finn. Sementara si kembar sedang asik berbincang dengan orang tua Casey.

“Ehh, tidak, aku hanya merasa sedikit mual. Aku pusing” jawabku. “Aku sebelumnya pernah naik kapal cepat, dan aku muntah karena aku memang tidak suka naik kapal laut, ini mengerikan” tambahku lirih.

 

Iya, naik kapal laut memang mengerikan bagiku, jauh lebih mengerikan ketimbang cerita-cerita horror yang ditakuti anak seusiaku. Entah kenapa aku selalu mual ketika naik kapal laut. Itu cukup menyusahkan menurutku. Aku segera mengambil minuman soda dari tasku, dengan meminumnya kupikir bisa mengatasi rasa mual ini. Perkiraanku salah, salah besar. Yang terjadi selanjutnya adalah aku muntah.

 

“Kau tidak apa kan Billy?” tanya Miss Nolan dengan ekspresi wajah khawatir.

“Tidak Miss Nolan, aku hanya merasa mual dan pusing”

“Dia tidak biasa naik kapal Bu” ejek Casey.

“Sebaiknya kau tidur saja Billy” Mr. Wood mennyuruhku tidur.

Aku pun memutuskan untuk tidur, karena mungkin memang tidur lah cara terbaik untuk mengatasi mual dan pusing ini. Bukannya meminum minuman bersoda.

 

Sekitar jam 12 lebih, kapal bersandar di pulau mati. Aku pun terbangun, kulihat yang lainnya sudah bergegas untuk keluar dari kapal. Dengan langkah lemas, aku pun ikut keluar dari kapal. Hmmm jadi seperti ini ya pulau mati, aku membatin. Sebenarnya pulau mati tidaklah buruk-buruk sekali. Pemandangan disini cukup indah, ada penginapan kecil, benteng-benteng serta bunker peninggalan masa lalu, dan ada sebuah penjara. Kukira penjara inilah yang dijadikan tempat dimana tahanan perang ditahan sebelum akhirnya mereka dihabisi.

 

Kami langsung disambut oleh seorang guide, namanya Ashley, dia kutaksir berusia 19 tahun. Mungkin. Dia mempersilahkan kami untuk meletakkan barang di penginapan terlebih dahulu, sebelum makan siang.

“Saya Ashley, saya akan mejadi guide kalian selama disini, salam kenal dan selamat menikmati liburan kalian” begitulah ucapnya ketika ia memperkenalkan diri. Kata-kata perkenalan yang sudah biasa bagi seorang guide. Ashley cukup cantik menurutku, rambutnya dikuncir, matanya biru. Akan tetapi ia sangat membosankan, ya, membosankan, prediksiku. Tapi ia cantik.

 

Kami pun bergegas merapikan barang bawaan kami, aku sekamar dengan teman-temanku. Sementara kamar Mr. Wood dan Miss Nolan tepat di seberang kamar kami. Setelah itu kami bergegas untuk menuju tempat makan siang, letaknya ada di belakang kamar kami. Makan siang kali ini adalah ayam goreng mentega dan juga beberapa seafood. Dan lagi-lagi aku bertemu musuhku, yaitu seafood. Aku memang tidak menyukai makanan laut. Jadi kuputuskan untuk memakan ayam saja.

 

“Selamat menikmati makan siang, ada sajian seafood spesial dari kami” ucap Ashley seakan ia ingin menunjukkan bahwa seafood tersebut disajikan spesial untuk kami. Padahal setauku, seafood ya tetaplah seafood, sama saja. Sama-sama menyebalkan. “Seafood ini bahannya didapatkan dari laut sekitar sini, rasanya sangat khas” tambahnya.

“Mana ada, mana ada,” gumamku suram sambil melirik seafood di meja makan.

“Kau benar Ashley, seafood ini sangatlah khas.” sahut Edd dan Rob.

“Sangat khas…” tambah Finn dengan sinis.

“Mana ada, mana ada,” aku lagi-lagi bergumam.

Sementara itu Casey dan orangtuanya sudah habis satu piring seafood, aku masih asyik dengan ayam goreng mentegaku. Finn, Edd, dan Rob juga tampaknya sangat menikmati seafood tersebut.

 

Setelah makan siang, kami dipersilahkan untuk istirahat sebentar, ketika kami beristirahat, Ashley memberitahu aturan main di pulau ini. Ia mengatakan tidak boleh ada yang pergi kemana-mana tanpa ijin darinya, ia beralasan, hal ini untuk menjaga keselamatan para pengunjung dan juga agar tidak mengganggu apa-apa yang ada disini.

“Jangan juga ada yang masuk ke penjara perang sendirian” kata Ashley. “Saya tekankan, jangan juga ada yang masuk ke penjara perang sendirian” ulangnya serius.

Kami. Maksudku Casey, aku, Finn, Edd, dan Rob saling berpandangan penuh tanya. Sementara itu Mr. Wood dan Miss Nolan memperhatikan penjelasan Ashley dengan seksama.

 

Apakah penjara perang itu sangatlah mengerikan? Atau mungkin ada harta di penjara tersebut? Atau penjara tersebut menyimpan suatu rahasia yang sebegitu pentingnya? Sehingga orang dilarang kesana tanpa didampingi guide. Pertanyan-pertanyaan itu terus mengusik aku. Dan juga mengusik teman-temanku yang lainnya. Terutama Finn, karena dia memanglah memiliki jiwa detektif, semakin ada tempat yang misterius, ia akan semakin ingin tau, dan akan semakin penasaran.

 

“Ashley, apa hanya ada rombongan kami?” tanyaku. “Maksudku, saat ini apakah hanya ada rombongan kami yang berlibur disini?” tambahku.

“Iya betul sekali. Kami hanya mengijinkan dalam satu minggu hanya ada satu rombongan yang berlibur kemari. Itupun jumlahnya tidak boleh lebih dari 10” jawabnya sambil membenarkan baju yang ia kenakan.

“Kenapa demikian?” kali ini Finn yang bertanya.

“Kami takut tidak bisa mengawasi pengunjung, apabila terlalu banyak yang belibur kesini dalam satu waktu” jawab Ashley membela diri.

“Maafkan anak-anak, mereka selalu ingin tau” tiba-tiba Miss Nolan menyela obrolan kami dengan Ashley.

“Ya, rasa ingin tau anak-anak memanglah sangat besar” sambung Mr. Wood.

“Tidak apa-apa, disinilah saya ditugaskan, untuk menjawab pertanyaan dan memandu para pengunjung disini” kata Ashley.

                                                         

Apanya yang anak-anak? Kami kan sudah 16 tahun, dan umur 16 tahun bukanlah lagi umur anak-anak. Justru kami akan semakin tertarik pada hal-hal yang dilarang dan misterius. Ya, seperti penjara perang tersebut. Selanjutnya, Ashley menceritakan kisah pulau mati dan juga mengenai pembantaian tahanan perang, ia juga menceritakan tentang legenda arwah-arwah korban pembantaian yang sering muncul pada saat-saat tertentu, untuk membalas dendam kepada manusia yang menghabisi nyawa mereka.

“Apa kau pernah melihat arwah-arwah itu?” tanya Finn penuh selidik.

“Aku? Aku tidak, akan tetapi beberapa generasi sebelumku pernah melihatnya, pengunjung pulau juga ada yang pernah melihatnya.” jawab Ashley.

“Jadi, apa kau percaya?” timpal Edd.

“Percaya mengenai arwah korban pembantaian yang sering muncul pada saat-saat tertentu, untuk membalas dendam kepada manusia yang menghabisi nyawa mereka.” tambah Rob.

Aku yang memang tidak percaya akan cerita horror memilih untuk menikmati suasana pulau mati. Mataku menyapu sekeliling pulau, dan sesekali tertuju pada penjara perang.

“Aku percaya, sebab orang tuaku pernah melihatnya dan menceritakannya padaku” jawab Ashley.

 

Saat sedang asik melihat pemandangan, suatu ketika aku menangkap bayangan, pandanganku menangkap bayangan di penjara perang tersebut. Aku tersentak. Tapi lagi-lagi, hal ini tidak membuatku ketakutan. Aku berpikir mungkin itu hanya bayangan pohon, atau bayangan-bayangan benda lainnya. Tetapi sesuatu mengatakan padaku itu adalah bayangan manusia, sesuatu mengatakan padaku bahwa itu bukanlah bayangan pohon, atau bayangan benda lainnya.

 

Malam harinya, kami dikumpulkan lagi ke tempat makan siang tadi, untuk menikmati makan malam. Menu makan malam kali ini adalah daging bakar, seafood, dan olahan ikan lainnya. Ya, selalu ada seafood dan akan selalu ada seafood disini. Kali ini ada beberapa orang pemain musik yang mengiringi makan malam kami. Mereka memainkan lagu-lagu klasik sebagai pembuka. Tidak beberapa lama kemudian, Ashley datang.

                                              

“Bagaimana makan malam dari kami? Cukup memuaskan kalian?”

“Yeayy lagi-lagi kami merasakan seafood yang sangat enak” sorak si kembar Edd dan Rob.

“Ashley, apakah kau yang memasaknya?” tanya Finn.

“Hmm, iya, disini selain sebagai guide, aku juga bertindak sebagai koki, dan juga ada beberapa rekan yang membantuku”

“Dimana mereka? Maksudku, dimana kau memasak makanan ini?” tanya Casey. “Aku, mungkin kami ingin melihat secara langsung proses pembuatan makanan laut ini” tambahnya.

“Kami memasaknya di sana” jawab Ashley sambil menunjuk sebuah rumah kecil di seberang tempat kami makan.

 

Aku yang sedang asyik menikmati daging bakarku, tidak begitu tertarik dengan percakapan mereka, lagipula untuk apa aku melihat proses membuat makanan dari ikan dan kawan-kawannya. Aku lebih tertarik pada penjara perang itu sebenarnya. Kenapa penjara itu begitu menarik perhatianku? Aku belum pernah memiliki rasa ingin tau sebesar ini terhadap hal asing. Se asing penjara perang itu.

 

Makan malam kami selesai, saatnya kami jelajah malam, begitu menurut Ashley. Kami memang akan berkeliling pulau itu pada malam hari, begitu yang tertulis di susunan liburan pulau mati yang diberikan oleh Ashley pada saat kami tiba di pulau mati. Mungkin hal ini untuk menambah kesan horror yang ingin disajikan oleh pengelola pulau mati.

 

Mau se-horror apapun, aku tak akan pernah takut.

Tak akan.

 

Jelajah malam dimulai dengan mengunjungi benteng-benteng kecil, oh iya, cahaya lampu di sekitaran benteng-benteng itu sangatlah suram, redup maksudku.

“Ini adalah benteng peninggalan tentara” Ashley menjelaskan tentang benteng-benteng tersebut. “Untuk pertahanan mereka ketika musuh datang” tambahnya.

Aku sebenarnya tidak mendengarkan penjelasan dari Ashley yang sangat membosankan bagiku. Penjelasannya terdengar kabur di telingaku.

 

Sebenarnya aku, atau mungkin teman-temanku lebih tertarik dengan keberadaan penjara perang itu.

 

Ashley semakin dalam menjelaskan mengenai benteng tersebut, ia mengira kami memperhatikannya.

 

Ia salah.

Kami tidak pernah memperhatikannya.

Sebenarnya hanya Miss Nolan dan Mr. Wood-lah yang memperhatikan penjelasan dari Ashley.

 

“Jelajah malam kali ini cukup sampai disini, hari pertama kita hanya menjelajah benteng ini, kita akan lanjut malam selanjutnya”

Oh, jadi sudah selesai ya? Penjelasannya yang membosankan mengenai benteng ini. Kami kembali ke penginapan, sementara Ashley bergegas menuju ke rumah kecil di seberang tempat kami makan tadi.

 

“Selamat malam anak-anak, beristirahatlah dengan baik” Miss Nolan memperingatkan kami sebelum ia masuk ke kamarnya menyusul Mr.Wood.

Sampai di kamar, aku dan teman-temanku tidak langsung tidur. Tapi kami merencanakan sesuatu.

 

Sesuatu yang harusnya tidak kami lakukan.

Sesuatu yang sebenarnya dilarang.

 

“Bagaimana jika kita bermain-main ke penjara perang itu?” usul Finn. “Aku sangat ingin tau”

“Setuju!” sahut Edd. “Yeah, ini sangat mengasyikkan” Rob menambahkan ucapan saudara kembarnya.

“Kau bagaimana Billy? Setuju?” tanya Casey yang sedari awal sudah setuju dengan rencana Finn.

Aku mengangguk tanpa berkata apapun, kurasa mereka sudah mengerti akan isyaratku tersebut.

 

Isyarat yang setidaknya memberikan tanda bahwa aku sebenarnya juga penasaran terhadap penjara perang tersebut.

 

Akhirnya kami berlima mengendap-endap keluar penginapan. Suasana malam itu sangat sepi, seperti tidak ada kehidupan. Angin pantai bertiup dengan kencangnnya. Bintang dan bulan tidak menampakkan cahayanya. Malam itu sangat horror.

 

Sangat horror untuk anak lain seusiaku.

Aku tidak akan pernah takut.

 

Kami langsung bergegas menuju penjara itu, berbekal cahaya senter yang dimiliki oleh Finn, kami berjalan dengan berhati-hati. Sampai di depan penjara, kami langsung masuk di penjara tersebut. Tidak ada cahaya di dalam penjara tersebut, hanya ada cahaya senter yang dibawa oleh Finn.

 

RUANG TAHANAN.

 

Begitulah kira-kira papan usang yang tertempel di depan sebuah lorong yang ada di dalam penjara tersebut. Aku membacanya secara samar-samar, sebab Finn-lah yang menemukan papan tersebut dengan menggunakan cahaya senter yang ia pegang. Kami pun menyusuri lorong ruang tahanan tersebut. Sama seperti penjara-penjara pada umumnya, banyak besi dimana-mana. Ruangannya pun cukup banyak.

 

Sampai di ujung lorong, Finn mengarahkan cahaya senternya ke sebuah ruangan, dan lagi-lagi ada papan keterangan di atas ruangan tersebut.

 

RUANG PENGHABISAN.

 

Entah apa maksudnya ruang penghabisan, mungkin ini ruang yang digunakan untuk menghabisi nyawa tahanan perang.

“Hei, liat itu” Finn berbisik kepada kami. Telunjuk tangannya mengarah ke arah ruangan ‘ruang penghabisan’. Kami melihat kearah yang ditunjukkan oleh telunjuk Finn. Ada beberapa bangku yang tersusun secara rapi, di sisi-sisinya terdapat pengikat tangan.

“Sangat mengerikan” sahut Casey.        

“Inilah cara mereka menghabisi para tahanan perang” tebak Rob.

“Mereka menyiksa tahanan perang dengan mengikatnya di bangku tersebut, lalu mungkin selanjutnya tahanan perang itu dicambuk sampai mati, atau bahkan lebih kejam lagi” tambah Edd.

 

Kami pun bergegas meninggalkan ruang penghabisan tersebut, kami terus menyusuri penjara perang tersebut, hingga akhirnya ada sebuah pintu. Mungkin pintu belakang. Lalu Finn membuka pintu tersebut, dan ternayata memang pintu itu adalah pintu belakang dari penjara perang. Kami sampai di sebuah halaman belakang yang cukup luas. Beberapa detik kemudian kami menyadari bahwa tempat itu adalah pemakaman.

 

Tepat! Kami ada di pemakaman, di belakang penjara perang.

 

Ada cukup banyak batu nisan, awalnya kami mengira itu adalah pekuburan para korban perang. Ternyata kami salah. Senter Finn menyinari salah satu batu nisan makam yang ada, kami lalu membaca tulisan yang sudah cukup pudar dari batu nisan tersebut.

 

TERBARING DENGAN DAMAI,

JENDERAL KEPALA BRIDGE,

MENINGGAL TANGGAl 22 APRIL 1760,

DALAM USIA 56 TAHUN 29 HARI.

 

Ternyata pekuburan itu adalah tempat peristirahatan terakhir para tentara di pulau ini pada saat perang. Kami lalu menyenteri satu persatu batu nisan yang ada. Disamping makam pertama yang kami lihat, ada sebuah makam lagi.

 

TERBARING DENGAN DAMAI,

NY. AGATHA

ISTERI JENDERAL KEPALA BRIDGE,

MENINGGAL TANGGAl 21 MEI 1758,

DALAM USIA 40 TAHUN 9 HARI.

 

Kami langsung mengerti bahwa makam ini adalah makam milik istri dari Jenderal Bridge. Aku, mungkin kami terkejut.

 

Kami sangat terkejut.

Sangat.

 

Kami menyenteri makam selanjutnya, di batu nisan tersebut tertulis:

                  

TERBARING DENGAN DAMAI,

ASHLEY KIDDNAP

PUTRI DARI JENDERAL BRIDGE DAN NY. AGATHA,

MENINGGAL TANGGAl 14 JULI 1760,

DALAM USIA 19 TAHUN 2 HARI.

 

Ashley??

 

Kami memekik ketakutan, dan aku baru kali ini mengalami ketakutan yang sangat mengerikan. Aku tau ini bukan main-mainan.

Aku ketakutan, aku terpuruk.

Aku tau pulau ini seharusnya tidak kami kunjungi.

Sesuatu berkata kepadaku bahwa tidak ada manusia disini selain kami.

 

Selain aku dan teman-temanku. Dan juga selain orang tua Casey.

 

“Bagus, kalian sudah tau. Kebetulan, kami disini sangatlah haus akan kehidupan, kami haus akan nyawa kalian. Para manusia yang masih hidup. Kami jiwa-jiwa yang mencari kehidupan” suara parau di belakang kami membuat kami semakin ketakutan.

 

Ketika kami menoleh, disana ada Ashley. Ada Ashley sang guide. Dengan wajah pucat pasi, ia tersenyum ke arah kami. Pandangan matanya seakan memburu kami.

 

Kami sadar, ia bukanlah manusia.

Kami sadar, Ashley bukanlah guide kami.

Kami sadar, dia adalah hantu. Dia adalah orang yang sudah mati.

Dia Ashley, putri dari Jenderal Bridge yang sudah meninggal ratusan tahun lalu.

 

Sesuatu berkata kepada kami, bahwa kami harus berlari sekencang mungkin. Kami harus meninggalkan pulau ini. Kami harus membangunkan orang tua Casey lalu pergi dari sini. Kami harus melakukan itu. Seharusnya kami harus melakukannya sesegera mungkin.

 

Tapi terlambat.

Kami terlambat.

 

Tiba-tiba banyak makhluk-makhluk mengerikan keluar dari makam-makam yang ada disini. Mereka berjalan dengan gontai. Mereka berjalan seirama. Ashley pun menghampiri kami. Tiba-tiba dari makam orang tuanya juga muncul makhluk mengerikan, seperti kakek-kakek dan nenek-nenek. Mereka berpakaian ala tentara. Iya, semua makhluk yang keluar dari makam, berpakaian ala tentara.

 

Kecuali Ashley, ia menggunakan gaun terusan berwarna putih.

 

“Habislah kita” ucap si kembar Edd dan Rob.

 

Makhluk-makhluk tersebut semakin dekat dengan kami. Aku menyadari kami akan mati di tempat ini, kami tidak akan selamat. Tidak akan pernah. Jenderal Bridge memegang leher Casey, lalu mengangkatnya. Terlihat kepasrahan dari wajah Casey, wajahnya memerah, ia berteriak tidak jelas.

 

Arwah tentara lainnya mencoba menggapai Edd, Rob, dan Finn. Mereka mencoba melawan, akan tetapi jumlah arwah tentara tersebut sangatlah banyak. Aku mendengar jeritan mereka. Aku mendengar jeritan teman-temanku. Aku mendengar jeritan Edd, Rob, dan Finn. Jeritan kematian mereka, jeritan yang amat suram. Jeritan yang sangat memilukan.

 

Aku mencoba menyelamatkan diriku, Ashley mengarah padaku, langkahnya lambat, tapi jangkauannya cukup jauh.

“Percuma lari, tidak ada yang pernah keluar dari sini dengan selamat, Billy”

Aku semakin mempercepat langkahku. Aku memutari penjara perang tadi dan menuju ke penginapan. Sepertinya aku berhasil lari dari Ashley, aku sampai di penginapan. Suasana penginapan sangatlah sunyi, seperti tidak terjadi apa-apa.

                                                                                                 

Aku mencoba membangunkan Miss Nolan dan Mr. Wood di kamarnya. Aku menggedor pintu kamarnya dengan panik. Tidak ada jawaban! Mereka tidak ada! Mereka pergi entah kemana.

 

Aku menuju kamar penginapanku, ternyata Miss Nolan dan Mr. Wood ada disana. Untunglah! Aku menceritakan semuanya kepada mereka, dan juga tentang si malang Casey. Mereka tidak bergeming. Aku menarik tangan mereka, tangan mereka sangat dingin. Tangan terdingin yang pernah ada. Tangan-tangan orang mati!

 

“Percuma lari, Billy” Mr. Wood tiba-tiba berkata demikian, ia mencengkeram tanganku, ia menarikku.

Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkeraman tangannya. Miss Nolan hanya terdiam, pandangannya kosong. Aku pun akan mati disini, cengkeraman tangan Mr. Wood sangatlah kencang. Aku menendang perutnya, ia tidak bergeming. Tidak bergerak. Tidak merespon. Tapi cengkeraman tangannya bertambah kencang dari sebelumnya.

 

Tamatlah aku!

 

“Percuma lari, Billy, tidak ada yang pernah keluar dari sini dengan selamat” lagi-lagi suara parau itu muncul dari depan kamar penginapanku.

 

Dia Ashley!

 

Habislah aku, aku menyusul teman-temanku.

Ajalku tiba!

 

Ashley mengulurkan kedua tangannya ke arah leherku, ia mencekik aku. Aku berteriak dengan suara yang aku sendiri tidak mengerti. Tubuhku kaku, aku tidak bisa melawan Ashley, aku tidak bisa melawan cengkeraman tangannya di leherku. Tubuhku lemas, aku menangis. Bayangan aku dan keluargaku saat berlibur di pantai musim lalu terlintas di hadapanku.

 

Aku ada di ambang kehidupan dan kematian. Tubuhku semakin lemas. Aku berteriak sebisaku, tapi ku tau itu percuma. Semua menjadi percuma.

 

Tiba-tiba ada tangan menepuk pundakku.

“Hey Billy, ayo bangun! Kita sampai. Kita sudah sampai” Casey membangunkanku dari tidurku.

Aku melihat Miss Nolan, Mr. Wood, Finn, dan si kembar Edd dan Rob sudah bergegas dari kapal cepat.

 

“SELAMAT DATANG DI PULAU MATI. JANGAN KESINI JIKA TIDAK BISA PULANG DENGAN SELAMAT”

 

Papan selamat datang di pulau tersebut membuatku kaget setengah mati. Lalu selanjutnya di dermaga ada perempuan yang wajahnya sudah tidak asing bagiku.

 

“Selamat datang di pulau mati, saya Ashley, saya akan mejadi guide kalian selama disini, salam kenal dan selamat menikmati liburan kalian” ujarnya dengan senyum. Senyuman khasnya. Senyuman yang pernah aku lihat sebelumnya.

 

Dia Ashley!

 

Dan, liburanku belumlah selesai.

Tapi, aku tau, seharusnya kami tidak berlibur disini.

Liburanku belumlah selesai.

Setidaknya masih banyak yang akan aku ceritakan pada kalian. Kalian tau bagaimana rasanya mengalami mimpi buruk? Dan dimana apa-apa yang ada di dalam mimpi buruk tersebut hadir dalam kenyataan. Sebenarnya jika itu mimpi yang tidak buruk, aku pasti tidak akan ambil pusing.

 

“Selamat datang di pulau mati, saya Ashley, saya akan mejadi guide kalian selama disini, salam kenal dan selamat menikmati liburan kalian”

 

Bagian terbaiknya adalah, ini semua hanya mimpi.

Mimpi yang sangat nyata.

Aku yakin, ini hanya mimpi.

Hantu tidak ada.

Meskipun jika hantu itu ada, hantu tidak bisa membunuh manusia.

 

Aku harus segera membuyarkan lamunanku. Aku akan menikmati liburanku di pulau ini.

Di pulau mati.

Lagipula, apasih yang harus kita takutkan mengenai kematian?

Bukankah kita semua nantinya akan mati?

 

Aku punya pemikiran, bahwa sebenarnya kita berhak mati dengan cara yang kita inginkan.

Ah, jadi aneh gini sih. Bukannya aku harus menikmati liburanku bersama teman-temanku disini?

 

Aku sudah melihat Ashley dalam mimpiku, ia cantik.

Bahkan lebih cantik daripada Ashley yang ada di mimpiku.

 

“Kalian lihat wajahnya? Dia masih takut naik kapal laut!” teriak Finn sambil menempelkan telunjuknya di pipiku.

Casey tertawa, sementara si kembar mengangkat bahunya secara bersamaan sambil mencibirkan mulut mereka. Entah apa maksudnya, tapi jelas mereka semua mengejekku.

 

Ada yang salah dengan takut naik kapal laut? Aku kira sih tidak. Aku kira ini lebih masuk akal dan beralasan ketimbang takut dengan cerita-cerita konyol tentang hantu yang membunuh manusia.

 

“Sudah anak-anak, saatnya kita membereskan barang bawaan kita, dan menikmati liburan kita” seru Miss Nolan.

 

Kami pun bergegas merapikan barang bawaan kami, aku sekamar dengan teman-temanku. Sementara kamar Mr. Wood dan Miss Nolan tepat di seberang kamar kami. Setelah itu kami bergegas untuk menuju tempat makan siang, letaknya ada di belakang kamar kami.

 

Ini sama seperti di mimpiku.

Aku tebak, setelah ini akan ada seafood menyebalkan.

Iya, pasti akan ada seafood menyebalkan itu!

 

“Selamat menikmati makan siang, ada sajian seafood spesial dari kami” ucap Ashley.

 

Betul kan apa yang aku bilang? Bakal ada seafood menjengkelkan ini.

Dan coba kalian tebak apa yang aku makan? Iya, sama seperti di mimpiku, aku lebih memilih untuk memakan ayam goreng mentega.

 

Sementara itu Casey dan orangtuanya sudah habis satu piring seafood, aku masih asyik dengan ayam goreng mentegaku. Finn, Edd, dan Rob juga tampaknya sangat menikmati seafood tersebut.

 

Semua ini sudah terjadi di mimpiku, seratus persen ini semua adalah apa yang ada di dalam mimpiku.

Aku mulai gusar.

Aku mulai ngeri mengingat mimpiku, terutama pada bagian dimana Ashley mencekik leherku.

 

“Ada apa sih Billy? Kita disini untuk bersenang-senang.” Suara Casey mengagetkanku.

“Iya Billy, lupakan ketakutanmu di kapal laut tadi.” Finn menambahkan.

Mereka tidak tau, aku bukannya takut naik kapal laut saja, ada yang lebih mengerikan.

Sesuatu yang mengerikan yang akan terjadi sebentar lagi.

Mungkin malam ini.

Aku menjadi ketakutan. Ini bukan aku yang biasanya.

 

Ketakutanku hilang, setidaknya sedikit hilang ketika aku sadar tidak hanya kami yang berlibur di pulau ini. Ada keluarga lain yang berlibur di pulau ini.

Tapi…

 

Mereka semua nampaknya tidak senang, mereka memang sedang asyik dengan permainan yang mereka buat sendiri di pantai. Tapi, wajah mereka tidak memperlihatkan kegembiraan. Justru wajah mereka terkesan tanpa ekspresi.

 

Setelah makan siang, kami dipersilahkan untuk istirahat sebentar, ketika kami beristirahat, Ashley memberitahu aturan main di pulau ini. Ia mengatakan tidak boleh ada yang pergi kemana-mana tanpa ijin darinya, ia beralasan, hal ini untuk menjaga keselamatan para pengunjung dan juga agar tidak mengganggu apa-apa yang ada disini.

 

Lagi-lagi sama seperti apa yang ada di mimpiku.

 

“Jangan juga ada yang masuk ke penjara perang sendirian” kata Ashley. “Saya tekankan, jangan juga ada yang masuk ke penjara perang sendirian” ulangnya serius.

Kami. Maksudku Casey, aku, Finn, Edd, dan Rob saling berpandangan penuh tanya. Sementara itu Mr. Wood dan Miss Nolan memperhatikan penjelasan Ashley dengan seksama.

 

Aku tau kok, sore nanti akan ada seafood menyebalkan itu lagi.

Semuanya sama seperti dalam mimpiku, hanya saja ada bagian-bagian yang tidak ada dalam mimpiku. Bagian dimana ada keluarga lain yang berlibur di pulau ini salah satunya.

 

Sore hari memang ada seafood lagi.

 

Malam harinya, kami dikumpulkan lagi ke tempat makan siang tadi, untuk menikmati makan malam. Menu makan malam kali ini adalah daging bakar, seafood, dan olahan ikan lainnya. Ya, selalu ada seafood dan akan selalu ada seafood disini. Kali ini ada beberapa orang pemain musik yang mengiringi makan malam kami. Mereka memainkan lagu-lagu klasik sebagai pembuka. Tidak beberapa lama kemudian, Ashley datang.

 

Bagian ini sedikit berbeda dengan apa yang ada dalam mimpiku. Kami bersama keluarga lain yang sedang berlibur di pulau ini. Ashley juga tidak bercerita tentang hantu-hantu korban perang yang ia ceritakan dalam mimpiku kok.

 

Sekarang aku yakin, Ashley tidak akan membunuh kami.

Tidak seperti di mimpiku.

 

“Nah, sekarang waktunya istirahat. Perjalanan kita di pulau mati baru akan dimulai besok. Pada hari terakhir liburan kalian, aku akan memberitahu kaliah satu hal. Jadi, selamat beristirahat.” Ashley berbicara dengan pengeras suara.

 

Kenapa harus menggunakan alat tersebut sih? Jumlah kami kan tidak banyak.

Tapi aku senang, karena tidak semua yang ada dalam mimpiku jadi kenyataan. Bagian tadi contohnya. Seharusnya jika semua mimpiku jadi kenyataan, maka malam pertama kami di pulau ini adalah jelajah malam mengelilingi pulau.

 

Saat kami bergegas menuju kamar kami untuk beristirahat, kami berpapasan dengan keluarga lain yang juga berlibur di pulau ini. Ketika kami ingin menyapa mereka, mereka justru menghindar. Mereka seolah-olah menghindari kami.

 

“Selamat malam anak-anak, beristirahatlah dengan baik” Miss Nolan memperingatkan kami sebelum ia masuk ke kamarnya menyusul Mr.Wood.

 

Aku sebenarnya ingin menceritakan mimpiku kepada Casey, Finn, dan juga kepada si kembar Edd dan Rob. Tapi aku tau, jika aku menceritakannya, aku hanya akan semakin diejek oleh mereka.

 

Kami semua memutuskan untuk tidur.

 

Keesokan harinya, setelah sarapan, kami diajak Ashley untuk mengelilingi pulau. Tentang benteng-benteng dan juga penjara perang itu memang sama persis seperti apa yang ada di mimpiku. Mengenai ruang penghabisan itu juga memang ada.

 

Tapi, aku senang. Ternyata di belakang penjara itu adalah sebuah lapangan voli, bukan pemakaman seperti yang ada dalam mimpiku. Hari demi hari, kami menikmati liburan kami di pulau mati.

 

Besok adalah hari terakhir kami berlibur disini.

 

Malam sebelum kami kembali ke rumah kami.

 

“Jadi, besok hari terakhir kalian liburan disini ya?” ucap Ashley.

“iya, kau betul Ashley, disini sangat mengasyikkan, aku yakin anak-anak pasti suka. Bukan begitu anak-anak?” tanya Mr. Wood kepada kami.

Kami semua mengangguk tanda setuju. Ya, memang ku akui, disini sangatlah menyenangkan. Berlibur disini adalah liburan yang mengasyikkan.

“Oke baiklah, seperti janji saya di awal, saya akan memberitahu satu hal”

“Oh, apakah ini sangat rahasia?” sorak si kembar Edd dan Rob sambil saling meninju lengan.

“Sebelumnya, saya mengucapkan selamat datang disini. Di pulau mati. Kepada kalian, penduduk baru disini. Mr. Wood, Miss Nolan, Casey, Finn, Edd, Rob, dan Billy.” Ujar Ashley. “Ini adalah tempat dimana semua manusia akan mengunjunginya dan menetap setelah mereka mati” imbuhnya.

“Apa ini lelucon khas pulau mati?” tanya Miss Nolan.

 

Aku terdiam.

 

“Maaf Miss Nolan, ini bukan lelucon.” Wajah Ashley menjadi sedih. “kita disini adalah orang-orang yang pernah hidup, pulau mati adalah tempat kita semua setelah kehidupan berakhir.”

 

Kami semua terdiam, kami awalnya mencoba menikmati lelucon ini. Tapi kami yakin ini bukanlah lelucon. Aku melihat di sekelilingku ada orang-orang memandang kami dengan sedih, mereka memandang kami dengan suram.

 

“Akan aku tunjukkan satu hal, agar semua menjadi jelas.” ucap Ashley sambil tersenyum.

Senyum yang dingin.

Senyum terdingin yang pernah ada.

 

……………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Pagi itu, kami berencana berlibur ke Red Falls. Aku diajak oleh keluarga Casey untuk ikut berlibur. Seperti biasanya, keluarga Casey memang sering mengajak aku dan teman-teman Casey lainnya untuk berlibur.

 

Kami berangkat dari rumah Casey jam 7 pagi, kami berangkat cukup awal karena tidak ingin terjebak kemacetan. Di mobil kami bercanda, Mr. Wood dan Miss Nolan sangatlah baik kepada teman-teman Casey.

 

Tidak terasa hampir 2 jam kami di perjalanan menuju Red Falls. Dari rumah kami menuju Red Falls memanglah memakan waktu lama. Aku melihat ke arah Edd dan Rob, mereka tertidur, sementara Casey dan Finn memandang keluar jendela mobil. Miss Nolan asik mengobrol dengan suaminya, Mr. Wood.

 

Perjalanan menuju Red Falls adalah perjalanan yang mengasyikkan, jika kau ikut dalam perjalanan kami, mungkin kalian akan berdecak kagum melihat pemandangan yang kami lihat. Sebelah kanan ada pohon pinus dan di sebelah kiri ada jurang dengan batu yang aku kira sangat mengerikan. Jalanan tanpa pembatas. Kami sangat menikmati perjalanan kami menuju Red Falls.

 

Sampai hal tersebut menimpa kami.

Ada truk dari arah berlawanan kehilangan kendali.

 

Aku melihat Mr. Wood kaget dan membanting setir mobilnya ke arah kanan. Akan tetapi semuanya terlambat, truk tersebut tetap menabrak mobil kami. Mobil kami terlempar ke arah jurang.

 

Aku bisa mendengar jeritan diriku sendiri dan jeritan yang lainnya. Kami semua bisa mendengar jeritan masing-masing. Kami semua melihat mobil yang berisikan kami masuk ke jurang.

 

Aku meneteskan air mataku.

Aku sudah mati.

Mr. Wood, Miss Nolan, Casey, Finn, Edd, dan Rob juga sudah mati.

Kami semua memang sudah mati.

Kami semua melihat mobil yang dikemudikan Mr. Wood masuk ke dalam jurang.

Mobil itu mobil yang juga kami juga ada di dalamnya.

 

Aku ingat, liburan musim panas kali ini, kami memang diajak oleh keluarga Casey berlibur ke Red Falls, bukan ke pulau mati. Pulau mati tidaklah ada. Pulau mati tidak akan pernah ada bagi orang-orang yang belum mati. Pulau mati hanyalah untuk kami, hanya untuk orang-orang yang sudah mati.

 

“Nah, bagaimana? Kalian sudah bisa memahaminya?” tiba-tiba pertanyaan Ashley mengagetkan kami. “Pulau mati tidak pernah ada di dunia orang-orang hidup, pulau mati hanya untuk kita, hanya untuk orang-orang yang sudah tidak ada di kehidupan. Selamat datang di pulau mati” imbuhnya dengan suara yang menyedihkan.

 

“A-Aku ingin berpamitan kepada orang tuaku, aku harus melihat mereka untuk terakhir kalinya sebelum aku meninggalkan mereka” aku memohon kepada Ashley.

“Maaf Billy, kematian datang tanpa kau bisa mempersiapkannya, kematian datang tiba-tiba. Kematian tidak bisa menunggumu siap atau tidak.” jawab Ashley dengan nada datar.

 

Aku sadar, aku sekarang sudah mati, begitu juga dengan yang lainnya, kami sudah sadar bahwa kami memang benar-benar sudah mati. Dan liburanku bukanlah ke pulau mati tapi ke Red Falls. Pulau mati adalah tempat kami sekarang. Kami sudah mati.

 

Tapi, kenapa harus kecelakaan?

Kenapa aku tidak bisa mati dengan caraku sendiri sih?

#WayToDie: Kisah Gadis Hutan dan Pemuda di Dalam Gubuk

Andai saja seseorang lewat di depan rumah mungilnya yang terbuat dari kayu dan daun kelapa pasti sudah ia terjang dan ia cabik-cabik hingga tewas, amarahnya sudah mencapai titik tertinggi. Darahnya mendidih, wajahnya merah padam. Sudah berpuluh tahun ia melakukan hal yang sama; menunggu ayahnya yang selalu pulang ketika matahari terbenam. Ia menunggu di tepi jendela, sama seperti biasanya. Semenjak pagi hari gadis muda berambut panjang itu hanya menunggu ayahnya pulang, kadang sampai tertidur di tepi jendela karena semilir angin yang berembus begitu sejuk. Rumah mungil gadis cantik itu berada jauh di dalam hutan, orang-orang mungkin akan terkejut begitu tahu ada sebuah rumah di tengah hutan lebat. Tidak ada tetangga, desa terdekat saja berjarak puluhan kilometer. Gadis muda itu tidak tahu berapa usianya saat ini, tidak ada kalender ataupun jam yang menunjukan hitungan waktu di rumah mungilnya. Namun kedua buah dadanya sudah menonjol di balik baju lusuh yang ia kenakan menunjukan bahwa ia sudah cukup dewasa. Tubuhnya pun sudah mulai meniru bentuk gitar Spanyol, jika saja ada seorang pemuda yang melihatnya di balik baju tipis dan rok selutut. Pastilah pemuda itu akan jatuh hati kepadanya.

Tidak banyak hal yang gadis muda itu ketahui, yang ia ketahui hanyalah kenyataan bahwa ibunya meninggal ketika melahirkannya. Jikalau ia mendesak ayahnya untuk memberitahu darimana asal mereka, ayahnya hanya menceritakan bahwa mereka dulunya adalah sebuah kawanan yang terdiri dari puluhan kepala keluarga. Hidup tenang di tengah hutan, setidaknya sampai para monster menyerbu tempat tinggal mereka. Membakar rumah-rumah mereka, dan membunuh kawanan satu per satu tanpa belas kasih. Ayah dan ibunya adalah salah satu kawanan yang selamat, jumlahnya tidaklah banyak. Mereka terpencar satu sama lain dan tidak lagi bertemu setelah hari yang mengerikan itu. Sehari-hari gadis muda itu hanya makan dari hasil buruan ayahnya, ia memasak seadanya hasil buruan itu. Biasanya daging rusa, babi hutan, atau monyet liar dan beberapa sayur-sayuran. Gadis muda yang semakin tumbuh itu pernah menyatakan niatnya untuk keluar hutan, tapi ayahnya melarang keras karena ia akan bertemu dengan monster-monster di luar sana. Ayahnya selalu menekankan bahwa mereka adalah keturunan terakhir dari ras nenek moyang, oleh karena itu mereka harus selalu menjaga dan mematuhi garis keturunan mereka demi kelangsungan kawanan mereka. Semenjak itu si gadis muda tidak pernah lagi mengutarakan niatnya untuk keluar hutan, walaupun ia akan curiga dengan tingkah laku ayahnya. Hampir setiap malam ayahnya melolong bagai anjing hutan. Di dalam hatinya ia yakin bahwa ayahnya menyimpan sebuah rahasia yang tidak ia ketahui. Namun, semisterius apapun ayahnya. Ia tetap mencintai ayahnya yang telah merawat dan melindunginya semenjak ia kecil.

Pada suatu malam, ketika si gadis muda ingin menyalakan lentera. Ia melihat sesosok pemuda tengah berjalan tertatih-tatih di balik ilalang tidak jauh dari rumah mungilnya, rasa penasaran membuatnya keluar rumah dan membuntuti pemuda itu. Pemuda itu terluka parah, ada delapan anak panah menancap di sekujur tubuhnya. Pemuda itu roboh setelah beberapa langkah melangkah di tengah padang ilalang, bagitu banyak darah mengucur di tubuhnya. Sang gadis muda pun iba, ia mendekatinya lalu membawanya ke sebuah gubuk dekat rumah mungilnya. Tempatnya bermain ketika masih kecil. Gadis muda itu menarik setiap anak panah yang menancap di tubuh pemuda berparas tampan itu, berutung tidak satupun dari busur panah yang menencap mengenai jantung dan ogan lain hingga pemuda itu selamat. Gadis muda itu membersihan darah di sekujur tubuh pemuda itu, dan ia mengobati lukanya. Pemuda itu tampak aneh, pakaiannya penuh dengan benda bulat berukuran kecil dan ada lipatan di bagian leher, gadis muda itu melepaskan kaitan di benda bulat satu per satu. Tubuh pemuda itu begitu sempurna, dadanya bidang. Otot-otot menonjol di perut dan tangannya, gadis muda itu tersipu. Jantungnya bedegup kencang, sekujur tubuhnya seperti dijalari aliran listrik bertegangan rendah. Ia tidak dapat menutupi perasaan yang bergejolak di dalam dirinya, walaupun ia tidak tahu perasaan apakah itu tapi ia menikmati setiap menit bersama pemuda itu.

Gadis muda itu teringat akan ayahnya, jika ayahnya tahu ia akan mendapatkan masalah besar. Setelah selesai mengobati pemuda itu, ia meninggalkan pemuda itu dan pulang ke rumah. Untungnya ayahnya belum pulang. Malam ini ayahnya pulang malam, ayahnya membawa banyak sekali buruan. Monyet liar yang berukuran besar, bahkan sangat besar untuk dikatakan sebagai seekor monyet. Ukuran monyet itu hampir menyamai tubuh gadis muda itu. Tapi sekali lagi ia tidak menaruh curiga apa-apa kepada ayahnya, lagi pula mereka akan sangat menikmati daging monyet besar ini. Malam itu ayahnya tidak menaruh curiga apa-apa kepadanya, ia pun merasa sangat lega.

Ketika pemuda itu sadar, ia terpesona dengan kecantikan si gadis muda yang duduk seraya mengobati lukannya. Mereka pun berteman dan saling suka. Meskipun begitu, si gadis muda masih gelisah karena ia tahu bahwa ayahnya akan marah besar jika megetahui hal ini. Lambat laun ayah si gadis muda mulai curiga akan tingkah laku anak gadisnya, tetapi ia sengaja tidak menunjukan kecurigaannya. Gadis muda itu semakin jatuh hati kepada sang pemuda ketika pemuda itu memberitahunya tentang gugusan bintang di langit ketika mereka sedang duduk di padang rumput dekat gubuk, ia juga memberitahu bahwa di langit banyak terdapat planet. Di antara nama-nama planet yang pemuda itu beritahukan, si gadis muda menyukai nama Neptunus. Pemuda yang berasal dari kota itu semakin jatuh hati dengan gadis hutan belantara yang menyelamatkanya, begitu juga sebaliknya.

Tanpa mereka sadari, ayah gadis muda telah mengetahui keberadaan pemuda asing di gubuk itu. Ia bertambah berang ketika mengetahui hubungan mereka dan kenyataan bahwa anak gadis satu-satunya telah berbohong. Suatu hari ketika menunggu ayahnya pulang, gadis muda itu tidak dapat menahan rasa kantuknya. Ia akhirnya tertidur di sisi jendela diiringi hujan gerimis yang membawa angin dingin dari hutan, gadis itu terbangun ketika hari sudah gelap. Ia teringat akan pemuda di dalam gubuk, seharusnya sore tadi ia mengantarkan air dan buah-buahan untuknya. Lukannya yang belum sembuh benar membuatnya belum bisa terlalu banyak bergerak, tetapi kedua bola mata gadis muda itu terbelalak ketika melihat pakaian ayahnya tergeletak di atas tanah dekat rumah mungilnya. Ayahnya ternyata sudah pulang tapi ia tidak dapat menemukan keberadaannya di dalam rumah, ia mencemaskan sesuatu yang buruk akan terjadi. Pikirannya melayang ke pemuda yang berada di dalam gubuk, ayahnya dapat saja menemukan pemuda itu lalu membunuhnya. Gadis muda berlari menuju gubuk reot tempat pemuda pujaan hatinya berada, deru napasnya mengalun lambat ketika ia sampai di depan gubuk itu. Sepi sekali di dalam gubuk itu, ia mulai terisak saat hendak membuka pintu gubuk. Tubuh sang pemuda pujaan hati sudah terbaring bersimbah darah di atas tanah, dada hingga perutnya rusak. Wajah pemuda pujaan hatinya yang tampan kini berubah pucat dan dingin, matanya terbuka lebar. tetesan-tetesan darah di dekat tubuh pujaan hatinya itu mengarahkannya kepada sesosok makhluk besar berbulu hitam lebat dengan moncong dipenuhi gigi-gigi tajam seperti serigala tengah mengunyah jantung pemuda itu. Makhluk besar itu sama sekali tidak merasa terganggu saat gadis muda itu memergokinya, ia terus menyantap jantung dan beberapa tulang muda pemuda pujaannya. Setelah memakan habis tulang-tulang pemuda pujaan hatinya, makhluk hitam besar itu mendekati si gadis muda yang masih berdiri memerhatikannya.

Deru napas makhluk itu begitu hangat dan berbau busuk, ia mengendus tubuh si gadis muda beberapa kali. Kemudian moncongnya yang basah oleh darah mendekati telinga gadis muda itu, dari mocong makhluk itu muncul sebuah suara yang sangat ia kenal. Suara itu mengatakan kata-kata yang juga sudah sering ia dengar semenjak kecil, “kau harus menjaga dan mematuhi garis keturunan kita, dia dan kawanannya sudah membunuh saudara-saudara kita dengan keji. Dia adalah bagian dari kawanan monster-monster itu, monster yang dagingnya kita makan hingga kenyang.”

Denting-denting aneh mulai menggema di telinga gadis muda itu, bau darah yang amis kini terasa manis di hidungnya. Makhluk hitam besar itu mundur beberapa langkah, gadis muda itu merasa suhu tubuhnya naik drastis. Ia seperti terbakar, kulitnya melepuh. Tubuh gadis muda itu mulai membesar hingga tiga kali ukuran manusia biasa, seluruh pakaian yang ia kenakan robek dan melorot ke tanah. rambut hitam mulai tubuh di seluruh tubuhnya, mulut berubah menjadi moncong, taring tajam mencuat dari barisan gigi geraham. Kuku tajam yang tumbuh di ruas jari gadis muda itu membuat telapak tangannya gatal, ia menggaruk tanah untuk mengurangi rasa gatal yang semakin tidak tertahan. Gadis muda telah lenyap, hanya makhluk hitam besar bermoncong seperti serigala yang tertinggal. Dua makhluk itu saling menatap, bola mata mereka memancarkan cahaya kemerahan. Salah satu makhluk hitam itu menerjang tubuh pemuda yang masih tersisa dan mulai memakan apapun yang tersisa dari pemuda itu. Tubuh pemuda itu pun hilang begitu saja. Makhluk hitam besar itu mendongakkan kepalanya lalu melolong. Suara lolongannya begitu panjang, membelah kesunyian hutan. Sayup-sayup terdengar lolongan lain dari bagian hutan yang lebih dalam, dan lama-kelamaan lolongan itu pun saling bersahut-sahutan.

#horror

Hai min gue pengen share pengalaman gue yaa,tp nama gue di samarin aja boleh yaa heheh

Jadi gue ini pny mama,dan seluruh keluarganya ini kyk punya ‘indra ke enam’ tp somehow, gift itu nge lewatin tante gue. Dan,di banding gue sama adek gue,secara fisik gue mirip tante tp secara emosional mirip sama mama gitu katanyaa
Nah,waktu gua kls 3sd itu gua masih tinggal di rumah lama di daerah yang agak sepi trus paling pojok kan. Sebelah rumah lama gue itu cmn rumah kosong trs langsung dinding pembatas sama sungai gitu. Nah,gue tuh pas jaman2 sd suka begadang nungguin nyokap/bokap. Tp hari itu gua tidur cepet,jam 9an. Trus gua entah mimpi atau engga,ada yang bangunin gue. Nenek2 dan sampe skarang gue masih inget ciri2nya. Rambut sama kulitnya putih,megang tongkat,kuku nya item panjang,agak bongkok. Dan dia manggil gue “cucu ku tersayang” mulu. I remember every detail of it eak.
Trs dia banguninnya gini “cuu,bangun cuu. Nenek dateng cu. nenek kangen sekali cu” trus gue bangun dan gue blg “nenek ngapain di sini? Nenek plg aja udah malem” trus dia gak jwb malah dia gandeng tgn gue trus keluar dr kamar gue. Pas gue ngelewatin ruang tamu,mbak gua ketiduran.mau gua bangunin cmn sama nenek2 itu gadibolehin. Trus akhirnya,dia ngajak gue keliling rumah gue sambil blg “ini tuh dlu kamar nenek sama ini bla bla bla” dll. Trus akhirannya di genteng. Dia blg “udah ya cu,nenek mau pulang udah capek. Kamu istirahat ya” trus gue nangis gitu nangis bener bener kejer “nek gaboleh jgn tinggalin aku neekkkk” trus dia senyum trus tbtb ngilang.
Pas sadar,sekeliling gua itu udh ada bonyok,ustad,mbak,tante dll. Dan gue tny kan “ada apa? Kok badan aku di pegangin gini?” Trus gue di ceritain cerita yang gak pernah gue paham/lupain….
Jadi,selama gue keliling2 sama nenek2 itu ‘tubuh gue’ ternyata msh ada di tempat tidur dan bergetar sambil nangis2 lah/ ketawa2 sendiri/ marah2 gitu. Dan pas nyokap gue mau videoin pas ustadnya lg kayak baca2 doa gitu,tbtb aja kamera nya jatoh dan lowbatt. Pdhl itu abis di charge. Trus pas gua udah bangun,badan gua jd dingin bgt dan pelan2 jd suhu normal lg.
sejak kejadian itu,gue sering di ‘gangguin’ gitu lah. Dan katanya,gift itu nge lewatin tante gue dan loncatnya ke gue. Coba bayangin,gue anak 12 tahun yang tiap harinya bisa denger suara orang ketawa2/nangis/marah2 non stop?

#horror

Halo min,nama gue fiffy,Gue mau share pengalaman gue yang iseng nanya sama makhluk halus dan gak gue sangka bakal dijawab.

Ada yang pernah bertanya dalam hati kenapa “makhluk halus” biasanya ada diatas pohon? Hmm mungkin dari cerita gue ini kalian tau salah satu alasannya.

Panggil gue fiffy,
Kejadiannya sekitar akhir bulan november kemarin.
ketika adzan maghrib berkumandang,gue masih di perjalanan pulang kerumah. Selama diperjalanan gue cuma beberapa kali melirik kejalan lalu fokus lagi sama layar hp sambil dengerin music karna gue merasa di awasin dari atas pohon yang ada dipinggir jalan yang gue lewatin.

Gak lama kemudian,gue sampai didepan rumah gue. Dan gak sengaja gue ngeliat sesosok anak kecil terbang lalu duduk diatas batang pohon rambutan punya tetangga depan rumah gue.

Gue sih udah biasa ngeliat hal hal kayak begitu. Pas gue lagi ngelepas sepatu,dia bersenandung lagu riang dengan bahasa jawa yang gue gak tau apa artinya. Deg. Gak tau angin apa yang lewat,yang jelas itu bikin gue terhenyak,damai banget rasanya.

Gue itu termasuk anak yang bisa melihat “makhluk halus” dan selalu penasaran, saat itu gue sengaja ngedumel pelan “mmmm,kenapa pada suka banget duduk diatas pohon sih?” tiba tiba,anak kecil yang tadi ketawa. Lalu gue denger bisikan,kecil dan disampaikan dengan perlahan lahan, disamping telinga kiri gue.
Walaupun suaranya kecil,tapi gue yakin 1000% kalo dia jawab apa yang gue tanya. Dia bilang “karna kami suka memperhatikan manusia dari atas sini,tanpa mereka tau mata kami mengawasinya dan siapa tahu kami bisa tinggal dengannyaa”.
Dari situ gue cuma bisa jawab “oh,oke,assalamualaikum” dengan tergagap,lalu masuk kedalam rumah.

Mungkin,buat kalian yang suka pulang malam,saat itu kalian sedang “diawasi” dipohon yang terlihat kosong,tenang dan dengan suasana yang sunyi.

END.