oh my god, finally i found youre tumblr account! wuuftt....

yess!

Min kalo mau sharing cerita horror pribadi gimana?
Anonymous

email ke kisahhorror@gmail.com aja

Pernah bener-bener punya pengalaman horor gak? Terus kalo punya, masih kerasa gak geregetnya?

agak sering sebenernya, kalo misal diinget-inget masih berasa banget gregetnya.

#FiksiHorror: The Village part 1

Akhirnya aku kembali, gumamku dalam hati setelah melewati sebuah gerbang desa. Kubuka kaca mobilku untuk merasakan udara pedesaan yang terasa sangat segar. Aku melajukan mobilku sembari memutar ingatanku untuk menuju ke rumah sahabat masa  kecilku. Keadaan desa ini tidak jauh berbeda dengan keadaan sepuluh tahun lalu saat aku meninggalkannya, masih tetap asri dan hanya ada beberapa pembangunan sejauh mataku memandang. Aku sejujurnya tidak pernah menginginkan untuk kembali ke desa ini, namun keputusanku berubah saat bibiku meneleponku kemarin, mengabarkan bahwa Ari, salah seorang sahabat masa kecilku meninggal dunia. Aku sangat kaget mendengarnya dan mau tak mau aku harus menghadiri pemakamannya karena dia adalah sahabat kecilku.

Setelah berjuang keras dengan ingatanku aku akhirnya tiba dirumah mendiang sahabatku. Paman dan bibiku langsung menyambutku ketika aku turun dari mobil. Meskipun aku tidak pernah mengunjungi mereka namun kami sangat dekat karena hampir setiap tahun kami bertemu di rumah keluarga besar saat hari raya. Mereka kemudian mengantarku bergabung bersama pelayat yang lainnya. Beruntung aku tiba tepat waktu karena sebentar lagi jenazah akan dibawa ke pemakaman desa untuk dimakamkan. Aku langsung menemui ibunda Ari untuk mengucapkan rasa bela sungkawa. Saat aku mendekati jenazah Ari yang terbujur kaku dan dibalut oleh kafan seketika itu juga air mataku menetes, seluruh memori kebersamaan kami dahulu berputar kembali diingatanku. Namun kulihat ada sesuatu yang janggal dengan jenazah Ari, seluruh wajahnya terlihat lebam membiru. Sangat janggal mengingat waktu kematiannya hanya selang kurang dari satu hari. Bibiku pun belum memberitahuku apa penyebab kematiannya.

“Arya !!!”, seorang wanita tiba-tiba menghampiriku sambil terisak tangis.

“Ri..Riri?”, tanyaku kikuk sambil mengamati wajahnya karena sudah hampir sepuluh tahun kami tidak bertemu sejak aku pergi meninggalkan desa ini.

“Kamu gimana kabarnya kenapa baru sekarang kembali kesini?”, ucapnya dan seketika dia memelukku.

“Emmm.. maaf Ri..”, aku bingung dan tidak tahu harus menjawab apa.

“Dia kembali Ya, mereka kembali, mereka telah mendapatkan Ari..”, ucap Riri di telingaku.

Aku hanya bisa terdiam mendengar kalimat itu terlontar dari bibirnya.

“Dan kamu tau Ya? Beberapa warga desa sekitar juga telah menjadi korban mereka, aku takut Ya.. takut..” ucapnya terisak.

Tubuhku bergetar hebat mendengar apa yang telah Riri katakan, rasa takut yang telah berusaha aku lupakan selama ini kembali menyeruak menyelimuti diriku.

Suasana pemakaman Ari terasa sedikit mencekam, kecemasan dan ketakutan terlihat jelas dari wajah para pelayat disamping rasa duka yang ada. Aku juga menyadari adanya beberapa makam yang terlihat baru di area pemakaman dari bunga bunga yang baru mengering yang tertabur diatas makam makam itu. Mungkinkah yang Riri katakan benar? Apakah semua ini ada kaitannya dengan hal itu? Seusai pemakaman beberapa warga pun termasuk pamanku terlihat sedang mendiskusikan seusatu. Aku berusaha menemui Riri namun ia sudah tidak terlihat diantara kerumunan para pelayat.

            Setelah kembali dari pemakaman aku beristirahat sejenak dirumah paman dan bibiku yang merupakan tempat tinggalku dimasa kecil. Aku sangat penasaran dengan apa yang telah Riri katakan dan apakah kematian Ari serta kenyataan yang aku lihat tentang beberapa makam baru dipemakaman saling berkaitan.

            “Paman, tadi sebelum pemakaman aku ketemu Riri. Dia ngasih tau aku kalau.. kematian Ari ada kaitannya dengan.. kematian beberapa warga desa sekitar dan.. tempat itu, apa itu benar paman?”. tanyaku ragu ragu.

            “Maaf ya nak, paman dan bibi belum bercerita ke kamu apa yang sebenarnya sedang terjadi.” , pamanku menghela nafasnya.

            Pamanku mulai bercerita bahwa semua ini bermula ketika Mbah Imam, seorang tetua, ahli agama dan paranormal di wilayah ini meninggal dunia beberapa minggu yang lalu. Mbah Imam adalah sosok yang telah menyelamatkan hidupku dan teman temanku. Dia jugalah yang telah menyegel kekuatan gaib yang sangat jahat di tempat itu sejak peristiwa itu terjadi. Dan satu tahun sejak peristiwa itu warga dari beberapa desa sekitar mulai berani mendekati tempat itu bahkan menjadikan lahan disana sebagai perkebunan mereka, alasannya karena tanah di daerah tersebut sangat subur dan ada Mbah Imam yang menjaga tempat itu, dan memang tidak pernah ada hal ganjil terjadi hingga sampai beberapa saat setelah meninggalnya Mbah Imam. Beberapa warga mulai hilang di tempat itu dan jasad beberapa dari mereka yang hilang ditemukan beberapa hari kemudian dalam kondisi tak bernyawa dan mengenaskan. Bahkan beberapa dari yang hilang benar benar lenyap tanpa ditemukan jasadnya. Warga pun menjadi resah dan khawatir terlebih lagi semenjak kematian Ari kemarin yang berada di desa, jauh dari tempat itu.

            “Lalu bagaimana kronologis kematian Ari paman? Mengapa tubuhnya membiru dan dipenuhi lebam?”, tanyaku keheranan.

            “Paman juga ndak tau nak, yang jelas kamu tau kan kondisi Ari sejak peristiwa itu ndak pernah berubah?”

            Ya, peristiwa itu adalah peristiwa yang mengubah hidup Ari selama lamanya, ia yang tadinya merupakan sosok yang ceria, periang dan penuh energi berubah menjadi bagai seorang anak dengan kelainan mental, untuk berbicara pun sulit, pandangannya selalu kosong, dan bahkan sudah tidak bisa lagi melakukan kegiatan sehari hari layaknya orang normal sehingga orang tuanya harus membayar perawat untuk membantunya setiap hari.

            “Nah, sejak Mbah Imam meninggal katanya, Ari setiap malam selalu ketakutan dan mengigau seperti ada dedemit yang sangat menakutkan yang cuma bisa dilihat sama dia mendatangi dia.”

            “Dan puncaknya kemarin saat orangtua Ari menemukan Ari di kamarnya sudah terbujur kaku dan tubuhnya membiru lebam lebam.”, pamanku terlihat brigidik saat mengatakan itu.

            Mendengar cerita dari pamanku aku hanya bisa terdiam dan tidak menyangka akan hal ini. Teror ini bahkan jauh lebih mengerikan dan jauh lebih jahat dari sebelumnya. Menjelang senja setelah berbincang bersama paman dan bibiku aku berpamitan untuk kembali ke ibukota. Niat awalku untuk bermalam disini kuurungkan karena rasa takutku yang telah menguasaiku. Paman dan bibiku mungkin menyadari hal itu dan tidak memaksaku untuk bermalam.

“Kamu tenang saja nak, kamu kan jauh dari tempat ini jadi ndak usah terlalu dipikirkan, biar kami yang mencari cara mengatasinya.” Ucap pamanku saat aku berpamitan untuk pulang.

Tidak akan pernah ada seorangpun yang menyangka di desa yang begitu indah ini terdapat teror yang sangat menakutkan menyelimutinya. Kupacu mobilku dengan cepat berharap aku segera meninggalkan desa ini. Terlintas di pikiranku bila kematian Ari ada kaitannya dengan peristiwa itu maka dia juga akan mengejar kami. Baru saja akan kuhapus pikiran itu dari kepalaku, di sisi jalan di bawah sebuah pohon aku melihat sosok itu. Aku tidak percaya dengan pengelihatanku sendiri dan berharap sosok itu hanya ada di pikiranku namun sosok itu nyata, terbalut kain berwarna abu abu yang telah compang camping, rambut berwarna putih kusut yang tergerai sangat panjang ke bawah, kulit pucat kriput dan sudah pecah pecah di beberapa bagian, dan tatapan mata yang sangat tajam. Sosok yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu, dia telah kembali. Sosok itu tersenyum dingin padaku

#FiksiHorror: Rahasia Pulau Mati 2

Liburanku belumlah selesai.

Setidaknya masih banyak yang akan aku ceritakan pada kalian. Kalian tau bagaimana rasanya mengalami mimpi buruk? Dan dimana apa-apa yang ada di dalam mimpi buruk tersebut hadir dalam kenyataan. Sebenarnya jika itu mimpi yang tidak buruk, aku pasti tidak akan ambil pusing.

 

“Selamat datang di pulau mati, saya Ashley, saya akan mejadi guide kalian selama disini, salam kenal dan selamat menikmati liburan kalian”

 

Bagian terbaiknya adalah, ini semua hanya mimpi.

Mimpi yang sangat nyata.

Aku yakin, ini hanya mimpi.

Hantu tidak ada.

Meskipun jika hantu itu ada, hantu tidak bisa membunuh manusia.

 

Aku harus segera membuyarkan lamunanku. Aku akan menikmati liburanku di pulau ini.

Di pulau mati.

Lagipula, apasih yang harus kita takutkan mengenai kematian?

Bukankah kita semua nantinya akan mati?

 

Aku punya pemikiran, bahwa sebenarnya kita berhak mati dengan cara yang kita inginkan.

Ah, jadi aneh gini sih. Bukannya aku harus menikmati liburanku bersama teman-temanku disini?

 

Aku sudah melihat Ashley dalam mimpiku, ia cantik.

Bahkan lebih cantik daripada Ashley yang ada di mimpiku.

 

“Kalian lihat wajahnya? Dia masih takut naik kapal laut!” teriak Finn sambil menempelkan telunjuknya di pipiku.

Casey tertawa, sementara si kembar mengangkat bahunya secara bersamaan sambil mencibirkan mulut mereka. Entah apa maksudnya, tapi jelas mereka semua mengejekku.

 

Ada yang salah dengan takut naik kapal laut? Aku kira sih tidak. Aku kira ini lebih masuk akal dan beralasan ketimbang takut dengan cerita-cerita konyol tentang hantu yang membunuh manusia.

 

“Sudah anak-anak, saatnya kita membereskan barang bawaan kita, dan menikmati liburan kita” seru Miss Nolan.

 

Kami pun bergegas merapikan barang bawaan kami, aku sekamar dengan teman-temanku. Sementara kamar Mr. Wood dan Miss Nolan tepat di seberang kamar kami. Setelah itu kami bergegas untuk menuju tempat makan siang, letaknya ada di belakang kamar kami.

 

Ini sama seperti di mimpiku.

Aku tebak, setelah ini akan ada seafood menyebalkan.

Iya, pasti akan ada seafood menyebalkan itu!

 

“Selamat menikmati makan siang, ada sajian seafood spesial dari kami” ucap Ashley.

 

Betul kan apa yang aku bilang? Bakal ada seafood menjengkelkan ini.

Dan coba kalian tebak apa yang aku makan? Iya, sama seperti di mimpiku, aku lebih memilih untuk memakan ayam goreng mentega.

 

Sementara itu Casey dan orangtuanya sudah habis satu piring seafood, aku masih asyik dengan ayam goreng mentegaku. Finn, Edd, dan Rob juga tampaknya sangat menikmati seafood tersebut.

 

Semua ini sudah terjadi di mimpiku, seratus persen ini semua adalah apa yang ada di dalam mimpiku.

Aku mulai gusar.

Aku mulai ngeri mengingat mimpiku, terutama pada bagian dimana Ashley mencekik leherku.

 

“Ada apa sih Billy? Kita disini untuk bersenang-senang.” Suara Casey mengagetkanku.

“Iya Billy, lupakan ketakutanmu di kapal laut tadi.” Finn menambahkan.

Mereka tidak tau, aku bukannya takut naik kapal laut saja, ada yang lebih mengerikan.

Sesuatu yang mengerikan yang akan terjadi sebentar lagi.

Mungkin malam ini.

Aku menjadi ketakutan. Ini bukan aku yang biasanya.

 

Ketakutanku hilang, setidaknya sedikit hilang ketika aku sadar tidak hanya kami yang berlibur di pulau ini. Ada keluarga lain yang berlibur di pulau ini.

Tapi…

 

Mereka semua nampaknya tidak senang, mereka memang sedang asyik dengan permainan yang mereka buat sendiri di pantai. Tapi, wajah mereka tidak memperlihatkan kegembiraan. Justru wajah mereka terkesan tanpa ekspresi.

 

Setelah makan siang, kami dipersilahkan untuk istirahat sebentar, ketika kami beristirahat, Ashley memberitahu aturan main di pulau ini. Ia mengatakan tidak boleh ada yang pergi kemana-mana tanpa ijin darinya, ia beralasan, hal ini untuk menjaga keselamatan para pengunjung dan juga agar tidak mengganggu apa-apa yang ada disini.

 

Lagi-lagi sama seperti apa yang ada di mimpiku.

 

“Jangan juga ada yang masuk ke penjara perang sendirian” kata Ashley. “Saya tekankan, jangan juga ada yang masuk ke penjara perang sendirian” ulangnya serius.

Kami. Maksudku Casey, aku, Finn, Edd, dan Rob saling berpandangan penuh tanya. Sementara itu Mr. Wood dan Miss Nolan memperhatikan penjelasan Ashley dengan seksama.

 

Aku tau kok, sore nanti akan ada seafood menyebalkan itu lagi.

Semuanya sama seperti dalam mimpiku, hanya saja ada bagian-bagian yang tidak ada dalam mimpiku. Bagian dimana ada keluarga lain yang berlibur di pulau ini salah satunya.

 

Sore hari memang ada seafood lagi.

 

Malam harinya, kami dikumpulkan lagi ke tempat makan siang tadi, untuk menikmati makan malam. Menu makan malam kali ini adalah daging bakar, seafood, dan olahan ikan lainnya. Ya, selalu ada seafood dan akan selalu ada seafood disini. Kali ini ada beberapa orang pemain musik yang mengiringi makan malam kami. Mereka memainkan lagu-lagu klasik sebagai pembuka. Tidak beberapa lama kemudian, Ashley datang.

 

Bagian ini sedikit berbeda dengan apa yang ada dalam mimpiku. Kami bersama keluarga lain yang sedang berlibur di pulau ini. Ashley juga tidak bercerita tentang hantu-hantu korban perang yang ia ceritakan dalam mimpiku kok.

 

Sekarang aku yakin, Ashley tidak akan membunuh kami.

Tidak seperti di mimpiku.

 

“Nah, sekarang waktunya istirahat. Perjalanan kita di pulau mati baru akan dimulai besok. Pada hari terakhir liburan kalian, aku akan memberitahu kaliah satu hal. Jadi, selamat beristirahat.” Ashley berbicara dengan pengeras suara.

 

Kenapa harus menggunakan alat tersebut sih? Jumlah kami kan tidak banyak.

Tapi aku senang, karena tidak semua yang ada dalam mimpiku jadi kenyataan. Bagian tadi contohnya. Seharusnya jika semua mimpiku jadi kenyataan, maka malam pertama kami di pulau ini adalah jelajah malam mengelilingi pulau.

 

Saat kami bergegas menuju kamar kami untuk beristirahat, kami berpapasan dengan keluarga lain yang juga berlibur di pulau ini. Ketika kami ingin menyapa mereka, mereka justru menghindar. Mereka seolah-olah menghindari kami.

 

“Selamat malam anak-anak, beristirahatlah dengan baik” Miss Nolan memperingatkan kami sebelum ia masuk ke kamarnya menyusul Mr.Wood.

 

Aku sebenarnya ingin menceritakan mimpiku kepada Casey, Finn, dan juga kepada si kembar Edd dan Rob. Tapi aku tau, jika aku menceritakannya, aku hanya akan semakin diejek oleh mereka.

 

Kami semua memutuskan untuk tidur.

 

Keesokan harinya, setelah sarapan, kami diajak Ashley untuk mengelilingi pulau. Tentang benteng-benteng dan juga penjara perang itu memang sama persis seperti apa yang ada di mimpiku. Mengenai ruang penghabisan itu juga memang ada.

 

Tapi, aku senang. Ternyata di belakang penjara itu adalah sebuah lapangan voli, bukan pemakaman seperti yang ada dalam mimpiku. Hari demi hari, kami menikmati liburan kami di pulau mati.

 

Besok adalah hari terakhir kami berlibur disini.

 

Malam sebelum kami kembali ke rumah kami.

 

“Jadi, besok hari terakhir kalian liburan disini ya?” ucap Ashley.

“iya, kau betul Ashley, disini sangat mengasyikkan, aku yakin anak-anak pasti suka. Bukan begitu anak-anak?” tanya Mr. Wood kepada kami.

Kami semua mengangguk tanda setuju. Ya, memang ku akui, disini sangatlah menyenangkan. Berlibur disini adalah liburan yang mengasyikkan.

“Oke baiklah, seperti janji saya di awal, saya akan memberitahu satu hal”

“Oh, apakah ini sangat rahasia?” sorak si kembar Edd dan Rob sambil saling meninju lengan.

“Sebelumnya, saya mengucapkan selamat datang disini. Di pulau mati. Kepada kalian, penduduk baru disini. Mr. Wood, Miss Nolan, Casey, Finn, Edd, Rob, dan Billy.” Ujar Ashley. “Ini adalah tempat dimana semua manusia akan mengunjunginya dan menetap setelah mereka mati” imbuhnya.

“Apa ini lelucon khas pulau mati?” tanya Miss Nolan.

 

Aku terdiam.

 

“Maaf Miss Nolan, ini bukan lelucon.” Wajah Ashley menjadi sedih. “kita disini adalah orang-orang yang pernah hidup, pulau mati adalah tempat kita semua setelah kehidupan berakhir.”

 

Kami semua terdiam, kami awalnya mencoba menikmati lelucon ini. Tapi kami yakin ini bukanlah lelucon. Aku melihat di sekelilingku ada orang-orang memandang kami dengan sedih, mereka memandang kami dengan suram.

 

“Akan aku tunjukkan satu hal, agar semua menjadi jelas.” ucap Ashley sambil tersenyum.

Senyum yang dingin.

Senyum terdingin yang pernah ada.

 

……………………………………………………………………………………………………………………………………

 

Pagi itu, kami berencana berlibur ke Red Falls. Aku diajak oleh keluarga Casey untuk ikut berlibur. Seperti biasanya, keluarga Casey memang sering mengajak aku dan teman-teman Casey lainnya untuk berlibur.

 

Kami berangkat dari rumah Casey jam 7 pagi, kami berangkat cukup awal karena tidak ingin terjebak kemacetan. Di mobil kami bercanda, Mr. Wood dan Miss Nolan sangatlah baik kepada teman-teman Casey.

 

Tidak terasa hampir 2 jam kami di perjalanan menuju Red Falls. Dari rumah kami menuju Red Falls memanglah memakan waktu lama. Aku melihat ke arah Edd dan Rob, mereka tertidur, sementara Casey dan Finn memandang keluar jendela mobil. Miss Nolan asik mengobrol dengan suaminya, Mr. Wood.

 

Perjalanan menuju Red Falls adalah perjalanan yang mengasyikkan, jika kau ikut dalam perjalanan kami, mungkin kalian akan berdecak kagum melihat pemandangan yang kami lihat. Sebelah kanan ada pohon pinus dan di sebelah kiri ada jurang dengan batu yang aku kira sangat mengerikan. Jalanan tanpa pembatas. Kami sangat menikmati perjalanan kami menuju Red Falls.

 

Sampai hal tersebut menimpa kami.

Ada truk dari arah berlawanan kehilangan kendali.

 

Aku melihat Mr. Wood kaget dan membanting setir mobilnya ke arah kanan. Akan tetapi semuanya terlambat, truk tersebut tetap menabrak mobil kami. Mobil kami terlempar ke arah jurang.

 

Aku bisa mendengar jeritan diriku sendiri dan jeritan yang lainnya. Kami semua bisa mendengar jeritan masing-masing. Kami semua melihat mobil yang berisikan kami masuk ke jurang.

 

Aku meneteskan air mataku.

Aku sudah mati.

Mr. Wood, Miss Nolan, Casey, Finn, Edd, dan Rob juga sudah mati.

Kami semua memang sudah mati.

Kami semua melihat mobil yang dikemudikan Mr. Wood masuk ke dalam jurang.

Mobil itu mobil yang juga kami juga ada di dalamnya.

 

Aku ingat, liburan musim panas kali ini, kami memang diajak oleh keluarga Casey berlibur ke Red Falls, bukan ke pulau mati. Pulau mati tidaklah ada. Pulau mati tidak akan pernah ada bagi orang-orang yang belum mati. Pulau mati hanyalah untuk kami, hanya untuk orang-orang yang sudah mati.

 

“Nah, bagaimana? Kalian sudah bisa memahaminya?” tiba-tiba pertanyaan Ashley mengagetkan kami. “Pulau mati tidak pernah ada di dunia orang-orang hidup, pulau mati hanya untuk kita, hanya untuk orang-orang yang sudah tidak ada di kehidupan. Selamat datang di pulau mati” imbuhnya dengan suara yang menyedihkan.

 

“A-Aku ingin berpamitan kepada orang tuaku, aku harus melihat mereka untuk terakhir kalinya sebelum aku meninggalkan mereka” aku memohon kepada Ashley.

“Maaf Billy, kematian datang tanpa kau bisa mempersiapkannya, kematian datang tiba-tiba. Kematian tidak bisa menunggumu siap atau tidak.” jawab Ashley dengan nada datar.

 

Aku sadar, aku sekarang sudah mati, begitu juga dengan yang lainnya, kami sudah sadar bahwa kami memang benar-benar sudah mati. Dan liburanku bukanlah ke pulau mati tapi ke Red Falls. Pulau mati adalah tempat kami sekarang. Kami sudah mati.

 

Tapi, kenapa harus kecelakaan?

Kenapa aku tidak bisa mati dengan caraku sendiri sih?